CATATAN HARIAN KE-8

Di dalam ruang lingkup sekolah yang indah nan asri, terdapat beberapa tanaman yang mengelilingi sekolah tersebut hingga membuat sekolah itu tidak bosan untuk dipandang. Siswa-siswinya pun bisa dibilang “betah” tinggal di sekolah daripada harus menghabiskan waktu di rumah. Kala senja datang pada saat itu, tampak beberapa siswa masih berbincang di kelas.
“hey”. Sapa salah seorang dari mereka. “kau suka kan saat aku tadi bilang kepadanya bahwa kau tengah mencarinya? Memang itu kenyataannya kan?” riya menatap wajah upik yang semenjak kembali dari masjid tersenyum ceria.
“tidak, itu tidak benar.” Bantah upik (dengan nada culas namun sedikit terlihat senyuman kecil yang tertoreh pada wajah cantiknya itu)
“ah, jangan bohong.” Riya mencoba menggoda. “kau suka kan dengan berlin?”
“tidak, apaan sih sudah ah aku mau pulang.” (sambil merapikan tasnya) “daa.. nyonya ditto..!!” balas upik terhadap riya yang dari tadi berusaha menggodanya.
“hey!” teriak riya karena upik sudah berlari meninggalkannya “ awas kau ya besok akan kubalas!!!”
Tepat saat mereka pulang sekolah, Gerbang sekolah pun ditutup. Matahari seakan sudah menyelesaikan tugasnya. Malam datang seolah bumi terus berputar dan terus berputar tiada henti. Di dalam sebuah rumah yang sederhana terdengar sebuah alunan lagu yang sedikit mellow, menunjukkan seseorang yang mendengarkan tengah galau hatinya.
Selasa, 4 November 2014
Setiap manusia pasti punya rasa kasih dan sayang. Yang membedakan hanyalah kepada siapa rasa kasih dan sayang tersebut ditujukan. Setiap kita memberi rasa cinta kepada seseorang,pastilah rasa itu selalu ada walau kita berusaha untuk menghapus rasa cinta tersebut. Saat seorang remaja jatuh cinta kepada lawan jenisnya, apakah hal itu wajar?
Menurut hukum dalam agama islam, berpacaran memang dilarang. Tapi memberi rasa kasih sayang kepada orang yang kita sayang apakah itu dilarang? Tidak. dia,orang yang kita sayangi tidak perlu tau apa isi hati ini yang sebenarnya. Pengorbanan dan doa adalah wujud rasa cinta yang sebenarnya. Pengorbanan yang selama ini diri ini lakukan tidak akan sia-sia. Doa yang selalu bibir ini panjatkan dalam setiap sujudnya akan terkabul pada waktunya kelak. Walau kita tidak tahu siapa jodoh kita sebenarnya,setidaknya kita pernah belajar mencintai seseorang dengan tulus dan ikhlas.
Rasa cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Diri ini mencintaimu apa adanya. Sedari dulu diri ini mengagumimu. Dan sedikitpun kau tak pernah menyadarinya. Memang diri ini sangat pandai untuk menyembunyikan perasaan yang dimilikinya. Aku tak berharap, kau bisa membalasnya. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan mendoakanmu dan melihatmu menorehkan sedikit senyuman di wajahmu.tapi sadarlah kawan ku yang kusayangi, aku tak akan melupakanmu. Semua akan indah pada waktunya
Terlihat riya sedang duduk di depan laptop mungil sambil memainkan jari jemarinya di atas keyboard. Sebenarnya riya adalah anak yang tidak senang mencurahkan isi hatinya ke temannya. Apalagi urusan asmara. Tidak pernah ia sekalipun menceritakan kisah asmaranya 1 pun kepada teman-temannya. Paling sedikit ia menceritakan kisahnya hanya kepada sahabat terdekatnya, itu pun tidak detail sesuai apa yang terjadi. Dia adalah pribadi yang tertutup. Baginya, di dunia ini tiada orang yang bisa ia percaya seutuhnya. Kecuali tuhan dan orang tuanya. Jikalau dia sedang tertimpa masalah, dia selalu mencurahkan isi hatinya ke laptop kecilnya itu. Semua isi hatinya baik itu sedang sedih,senang,bingung,galau,apapun itu yang sedang menimpa hati dan pikirannya selalu ia tuangkan ke dalam komputernya.tetapi Walau dia adalah pribadi yang tertutup, dia tidak pernah meluapkan amarahnya sebagaimana anak remaja jaman sekarang yang sedang galau gegana. Ia selalu bisa mengontrol emosinya. Ia terkenal menjadi pribadi yang sabar dan tangguh. Tak sedikit teman riya yang gemar menuangkan isi hati mereka kepada riya. Salah satunya upik. Upik adalah sahabat riya dari smp. Dia selalu menuangkan isi hatinya kepada riya setiap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Berbeda dengan riya yang selalu tertutup kepada upik.
“ri!” panggil upik suatu hari saat ia ingin curhat. “ri, aku mau curhat nii..”
“yeee.. curhat, curhat aja lagi. Biasanya kan juga gitu.” Sahut riya yang sedang sibuk tengah mencari buku.
“ri!” panggil upik untuk kedua kalinya
“apaan sih pik? Dari tadi ra,ri,ra,ri mulu.. kalo mau curhat teh sok atuh mangga jelasken..” ujar riya sedikit kesal dengan upik
“yaudah sssstt dengerin dulu” kata upik sambil menyondorkan jari telunjuknya ke mulut riya supaya riya bisa sedikit lebih tenang. “aku suka sama berlin!”
“haa?” sahut riya nada spontan
“iihhh ssstttt.. jangan berisik ri, ini perpus. Gimana sih?” kata upik
Dengan raut wajah kaget dengan sedikit menelan ludah riya pun menanggapi curhatan upik dan segera menutup buku yang sejak tadi tengah dibacanya.
“kamu serius pik?” Tanya riya penasaran
“ya serius.. lah mbok pikir aku lagi ngelawak opo?” ujar upik
“oh.. terus?” Tanya riya yang sedikit kebingungan menanggapi curhatan upik
“kok terus too? Bantuin aku gitu lo buat dapetin berlin! Kamu lak pernah berteman se sama dia!”
“oh gampang itu mah.. udah ya aku mau baca buku lagi nih,, ntar tak sampaikan salammu ke berlin. Oke?”
“siip deh,, kamu emang sahabatku yang paling baik” ujar upik sambil mencubit pipi riya “aku kembali ke kelas dulu ya.. daa!!!” upik segera meninggalkan riya yang masih asik membaca buku di perpustakaan itu
Setelah mendengar curhatan upik, riya terlihat sedikit termenung dan melamun. Apa yang sebenarnya riya pikirkan? Tak ada yang mengetahuinya. mungkin ia sedang memikirkan cara bagaimana menyatukan upik dan berlin.
“plokk” terdengar suara tepukan di pundak riya yang membuat riya tersontak. Tidak lain tepukan itu adalah tangan berlin yang sengaja iseng
“astaghfirullah… ngagetin aja deh..” ucap riya sambil mengelus dadanya
“abisnya situ ngelamun sih.. ngelamun apaan ri?” Tanya berlin
“ngelamunin kamu!” jawab riya culas
“aku? Tumben situ ngelamunin aku? Ciyeee” kata berlin yang merasa GR
“pliss deh lin, bisa gak jangan GR dulu kenapa sih?” ucap riya spontan melihat perilaku berlin yang sepertinya mulai GR. “tadi upik bilang ke aku katany dia suka sama kamu! Maka dari itu aku cari cara gimana supaya situ sama upik bisa jadi couple.” Jelas riya kepada berlin
“he? Upik? Jangan becanda ri, gak lucu!”
“ sapa juga yang mau becanda. Upik barusan dari sini. Dia bisikin ke telinga aku. Katanya dia suka sama kamu.” Ujar riya
“oohhh…kalo aku sukanya sama kamu gimana?” kata berllin sedikit menggoda riya
mendengar ucapan berlin, riya kaget.
“oke-oke aku ga akan becanda lagi.. pisss” ucap berlin (sembari mengangkat 2 jarinya). Emmm… upik ya? Dia cantik sih, pinter pula. Boleh lah..” ujar berlin
Riya hanya menatap berlin dengan tatapan yang tajam
“oke lah aku pergi dulu yaa… daa” berlin pun pergi meninggalkan riya. Bel sudah berdentang,waktunya pulang. Riya yang biasanya ditawari pulang oleh berlin, kini berlin pun berubah mendekati upik. Dan menawari upik setiap pulang sekolah. Melihat hal itu, riya hanya bisa memandang mereka berdua yang tengah asik berbincang. Riya pun mempercepat langkahnya yang hendak menuju pulang.
Rabu. 11 Desember2014
Waktu sangat berjasa untuk hari ini. Rasanya sungguh bahagia tak terkira. Walau sedetik, saat itu masih ada hingga sekarang.suaranya yang khas membuat hariku semakin cerah. Entah ada apa dengannya. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Terkadang dia membuatku penuh dengan pertanyaan. Dia memperhatikan? Ataukah hanya simpati? Atau hanya kebetulan? Entahlah hanya tuhan yang tau.
Seringkali aku ingin melontarkan pertanyaan. Tapi entah mengapa saat dihadapkan dengan matanya,pertanyaan itu hilang begitu saja. Tapi untunglah diri ini pandai menyembunyikan perasaan hingga sepanjang aku bertemu dengannya tidak pernah ada kata “salting”.
Waktu itu begitu cepat,seakan tuhan telah merencanakan itu semua. Mungkin tuhan ingin mengujiku atau mungkin ingin memberiku sebuah hadiah kecil karena doa yang telah kupanjatkan setiap saat. Saat ini hanya dengan “berdoa” lah caraku mengasihinya. Aku berdoa supaya saat-saat seperti itu bisa terulang kembali.
Tapi kau sekarang tlah berubah wahai kawan yang ku kasihi sedari dulu. Mungkin tuhan mendengar apa yang ku doakan setiap hari untukmu. Tuhan mengabulkannya dengan cara kau dijadikan lebih dekat denganku untuk saat ini. aku merasa senang. Senang sekali. Tapi keadaanmu yang sekarang tidak seperti dulu kawan kasihku. Pengagummu saat ini lebih banyak dari artis papan atas bagiku. Tidakkah kau mengetahui betapa sedihnya hati ini?
Baru kali ini aku merasakan apa itu jatuh cinta. Jatuh cinta yang dilandasi perasaan yang tulus dan ikhlas. Memang, dari dulu aku mempunyai kawan kasih sepertimu. Tapi mereka semua hanya ku anggap sebagai sahabat saja jika kau mengetahuinya. Darimulah aku sadar bahwa “cinta” memang ada.
Kawan kasihku, aku memang sangat senang untuk sekarang. Tapi aku juga sangat sedih untuk sekarang. Aku tidak ingin menjadi saingan mereka. aku tidak punya apa-apa. Sedangkan kau juga terlalu sempurna buatku. Kau sempurna. Banyak orang diluar sana yang lebih baik dan lebih pantas untukmu. Terima kasih untuk semua yang tlah kau berikan padaku. Trima kasih
Matahari mulai kembali ke persinggahannya. Senja mulai terbuka. Keheningannya membuat hati riya semakin merana. Dan kembali riya menumpahkan isi hatinya di depan laptop mungilnya tersebut. Ia hanya bisa bicara kepada benda itu. Dan hanya doa yang ia panjatkan setiap waktu yang bisa ia harapkan suatu saat dapat terkabul.setelah lama ia mendekam dalam kamar kecilnya, riya pun berniat mencari udara segar. Tetapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“tokk..tokk.” suara ketukan itu semakin keras, dan riya mulai menyahut sambil mematikan komputernya.
“iya.. sebentar!!” teriak riya lumayan keras.”eh, ditto.. ada apa? Emm.. masuk dulu deh” mempersilahkan teman sekelasnya itu untuk duduk.
“gini ri..” belum sempat melontarkan tujuannya, riya keburu menanyakan minuman. “eh.. mau minum apa ni? Sebenernya tadi aku mau ke supermarket beli minuman tapi keburu kamunya datang, jadi di rumahku Cuma ada air putih doang.”
“gapapa ri, jangankan air putih, air kobokan juga gapapa.” Suasana mulai santai setelah dari tadi kaku.” Haha bisa aja. Aku ga sejahat itu kok..” riya pun mulai ke dapur mengambilkan jamuan sederhana untuk ditto. “ini dit, diminum. Jadi kamu kesini mau apa ni?” riya kembali menanyakan maksud kedatangan ditto
“oh ya jadi begini, aku tahu kalo kamu itu sebenernya suka nulis kan?” riya Cuma mengangguk. “nah, aku ditawari temenku untuk ikut semacam festival film pendek. Nah aku bingung mau angkat cerita apa. Aku mau minta inspirasi dari kamu.”
“oh, boleh.. sebentar, tunggu sini.” Riya keluar dari kamar sembari membawa laptop kecilnya. “nah, ini dit, beberapa catatan aku.”
“wah!banyak banget ri.. bisa-bisa lebaran baru kelar aku baca ini semua.” Wajah ditto kaget melihat catatan riya.
“ya gak sampe lebaran juga kalii… ya udah sebab ini udah malem, besok aja deh aku certain intinya ke kamu. Besok di kelas jam istirahat deh.”
“ya udah.. aku pulang ya.. selamat malam” pamit ditto.
Pagi ini cuaca kota Jakarta begitu cerah. Langit tampak bersih. Meskipun masih ada sedikit polusi yang selalu menghiasi kota metropolitan itu. Sekolah riya tampak bersih,begitu juga dengan ruang kelasnya yang selalu terlihat nyaman dengan sedikit pemandangan para siswa yang sedang berbincang. Pemandangan itu tak luput dari riya yang sedang menjelaskan perihal pengalamannya kepada ditto.
“ri,, stop deh.” Ditto menghetikan penjelasan riya.
“apa? Ceritanya kan belum selesai?” Tanya riya heran
“kamu ga punya pengalaman tentang romantisme?” ditto bertanya dengan wajah penasaran “soalnya dari tadi kamu cerita masalah sosial mulu. Aku bosen dengernya”
“emm.. sebenernya ada sih dit. Tapi ini pengalaman aku sendiri. Aku malu kalo cerita ke orang lain..” belum sampai seleai bicara, ditto menyahut omongan riya “sssttt.. udah tenang aja aku ga akan cerita ke siapa-siapa” jelas ditto (sambil mengotak-atik laptop riya)”
“eh jangan dibaca..” ujar riya
“ssstt…ini nih baru seru…” ditto mulai membaca catatan harian riya. “ri, kamu suka sama berlin?” Tanya ditto dengan raut wajah sedikit tercengang.
“ya begitulah..” jawab riya pasrah.
“terus kamu selama ini comblangin upik sama berlin maksutnya apa?” ditto semakin penasaran.
“ya aku kasihan dit ama upik. Apalagi dia sahabatku dari smp.” Ucap riya menjelaskan
Tak sadar, terlihat berlin dari jauh sedang memperhatikan mereka berdua. Berlin Nampak cemburu melihat kebersamaan ditto dengan riya. Ia pun menghindar dan pergi menemui upik.
“kamu kasihan ama orang lain, tapi perasaanmu gak kamu kasihanin? Kamu terlalu baik ri.”
“udah ah.. lanjutin deh itu pekerjaanmu. Kamu mau milih yang mana ceritnya?” riya mencoba mengalihkan pembicaraan.
‘aku pilih ini! tapi ini catatanmu kurang lengkap ri, seharusnya kamu tambahin satu lagi deh, biar pas jadi 8 catatan.” Ditto memberi usul. Tapi tiba-tiba riya tak sadarkan diri. “ri? Bangun ri.” Dengan spontan ditto membawa riya ke UKS.
Waktu berjalan begitu cepat. Matahari mulai condong ke barat. Tapi langit tampak sangat gelap. Suara halilintar mulai terdengar. Nampaknya malam ini hujan akan turun.
Sabtu, 14 Desember 2014
Catatan ke-8 dari riya untuk berlin
Aku tau kau tak akan pernah bisa menjadi milikku. Dunia pun bicara seperti itu. Walau begitu, cukup melihat senyummu saja itu sudah lebih dari cukup.aku selalu berdoa di setiap sujudku agar kau bisa bahagia kelak saat aku sudah tiada.
Aku hanya ingin mengatakan “I LOVE U BERLIN..AKU MENCINTAIMU.” Semoga besok,lusa entah kapanpun, kau bisa melihat pesanku ini bagaimanpun caranya. Mungkin saat kau melihat catatanku ini, aku sudah tinggal di alam yang berbeda denganmu. Jaga baik-baik upik,sahabatku. dia mencintaimu sebagaimana aku mencintaimu juga.
Terima kasih atas kenangan indah dan senyummu yang tlah kau berikan padaku selama ini. semoga kita bisa berjumpa di surga kelak..
Salam terkasih sahabatmu
Riya
Tak terasa air mata riya mengalir begitu deras. Hal itu membuat mata riya pada keesokan harinya terlihat sembap. Ditto yang sedari tadi memperhatikan riya, akhirnya berani melontarkan pertanyaan perihal kejadian kemarin siang.
“ri, kamu sakit ya? Wajahmu pucat sekali. Matamu nanar. Kemarin kamu juga sempat pingsan. Kamu sakit apa ri?” ditto bertanya (dengan volume suara yang lembut)
“aku divonis oleh dokter, bahwa aku menderita penyakit gagal ginjal. Dan umurku gak lama lagi. Aku tidak pernah cerita soal ini e siapa-siapa. Termasuk upik ataupun berlin. Kamu jangan cerita ke siapa-siapa soal ini. Cuma kamu yang bisa aku percaya saat ini.” riya berkata dengan nada terputus-putus. Nampaknya ia memendam rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya. “ aku Cuma berpesan, kalo aku udah ga ada, tolong kasih ini ke berlin.” Riya menyodorkan laptopnya. Dan tak lama, riya pun menutup matanya. Jantungnya berhenti, detak nadinya pun ikut berhenti.
Tepat 2 hari setelah kepergian riya, ditto datang ke rumah berlin bermaksud menyampaikan amanah riya.
“aku tau kamu sangat terpukul kan setelah riya pergi? Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi saat detik-detik riya mau meninggal, aku ada di samping dia. Tapi kamu? Kamu malah berduaan dengan upik. Sahabat macam apa kamu? “ ditto merasa kesal dengan berlin. Dan meluapkan amarahnya di depan berlin. “ aku kesini, Cuma mau ngasih ini. coba kamu buka, dan baca deh.!”
Berlin pun segera membuka dan membaca seluruh catatan riya. Tanpa sadar air mata berlin mengalir perlahan. Detak jantungya seolah berhenti sekejap. Lehernya terasa tercekik hingga tak dapat bernapas lagi. Selepas ia membaca catatan riya, ia langsung lari menuju tempat dimana riya dimakamkan. Disana ia langsung berkata sambil teriak “TAUKAH KAU RIYA?? AKU JUGA MENCINTAIMU!!!! AKU SANGAT MENCINTAIMU!!!!” tak peduli angin bertiup kencang, sekalipun badai datang, seolah tak ia hiraukan. Setiap hari ia berkunjung ke makam riya. Tak peduli dengan masa depannaya, ia tak mau menikah dengan gadis manapun. Ia cukup merasa tenang hanya dengan membaca catatan riya sambil memejamkan mata seolah riya tengah berada di sampingnya saat itu juga.

SELESAI
CATATAN HARIAN KE-8
Di dalam ruang lingkup sekolah yang indah nan asri, terdapat beberapa tanaman yang mengelilingi sekolah tersebut hingga membuat sekolah itu tidak bosan untuk dipandang. Siswa-siswinya pun bisa dibilang “betah” tinggal di sekolah daripada harus menghabiskan waktu di rumah. Kala senja datang pada saat itu, tampak beberapa siswa masih berbincang di kelas.
“hey”. Sapa salah seorang dari mereka. “kau suka kan saat aku tadi bilang kepadanya bahwa kau tengah mencarinya? Memang itu kenyataannya kan?” riya menatap wajah upik yang semenjak kembali dari masjid tersenyum ceria.
“tidak, itu tidak benar.” Bantah upik (dengan nada culas namun sedikit terlihat senyuman kecil yang tertoreh pada wajah cantiknya itu)
“ah, jangan bohong.” Riya mencoba menggoda. “kau suka kan dengan berlin?”
“tidak, apaan sih sudah ah aku mau pulang.” (sambil merapikan tasnya) “daa.. nyonya ditto..!!” balas upik terhadap riya yang dari tadi berusaha menggodanya.
“hey!” teriak riya karena upik sudah berlari meninggalkannya “ awas kau ya besok akan kubalas!!!”
Tepat saat mereka pulang sekolah, Gerbang sekolah pun ditutup. Matahari seakan sudah menyelesaikan tugasnya. Malam datang seolah bumi terus berputar dan terus berputar tiada henti. Di dalam sebuah rumah yang sederhana terdengar sebuah alunan lagu yang sedikit mellow, menunjukkan seseorang yang mendengarkan tengah galau hatinya.
Selasa, 4 November 2014
Setiap manusia pasti punya rasa kasih dan sayang. Yang membedakan hanyalah kepada siapa rasa kasih dan sayang tersebut ditujukan. Setiap kita memberi rasa cinta kepada seseorang,pastilah rasa itu selalu ada walau kita berusaha untuk menghapus rasa cinta tersebut. Saat seorang remaja jatuh cinta kepada lawan jenisnya, apakah hal itu wajar?
Menurut hukum dalam agama islam, berpacaran memang dilarang. Tapi memberi rasa kasih sayang kepada orang yang kita sayang apakah itu dilarang? Tidak. dia,orang yang kita sayangi tidak perlu tau apa isi hati ini yang sebenarnya. Pengorbanan dan doa adalah wujud rasa cinta yang sebenarnya. Pengorbanan yang selama ini diri ini lakukan tidak akan sia-sia. Doa yang selalu bibir ini panjatkan dalam setiap sujudnya akan terkabul pada waktunya kelak. Walau kita tidak tahu siapa jodoh kita sebenarnya,setidaknya kita pernah belajar mencintai seseorang dengan tulus dan ikhlas.
Rasa cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Diri ini mencintaimu apa adanya. Sedari dulu diri ini mengagumimu. Dan sedikitpun kau tak pernah menyadarinya. Memang diri ini sangat pandai untuk menyembunyikan perasaan yang dimilikinya. Aku tak berharap, kau bisa membalasnya. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan mendoakanmu dan melihatmu menorehkan sedikit senyuman di wajahmu.tapi sadarlah kawan ku yang kusayangi, aku tak akan melupakanmu. Semua akan indah pada waktunya
Terlihat riya sedang duduk di depan laptop mungil sambil memainkan jari jemarinya di atas keyboard. Sebenarnya riya adalah anak yang tidak senang mencurahkan isi hatinya ke temannya. Apalagi urusan asmara. Tidak pernah ia sekalipun menceritakan kisah asmaranya 1 pun kepada teman-temannya. Paling sedikit ia menceritakan kisahnya hanya kepada sahabat terdekatnya, itu pun tidak detail sesuai apa yang terjadi. Dia adalah pribadi yang tertutup. Baginya, di dunia ini tiada orang yang bisa ia percaya seutuhnya. Kecuali tuhan dan orang tuanya. Jikalau dia sedang tertimpa masalah, dia selalu mencurahkan isi hatinya ke laptop kecilnya itu. Semua isi hatinya baik itu sedang sedih,senang,bingung,galau,apapun itu yang sedang menimpa hati dan pikirannya selalu ia tuangkan ke dalam komputernya.tetapi Walau dia adalah pribadi yang tertutup, dia tidak pernah meluapkan amarahnya sebagaimana anak remaja jaman sekarang yang sedang galau gegana. Ia selalu bisa mengontrol emosinya. Ia terkenal menjadi pribadi yang sabar dan tangguh. Tak sedikit teman riya yang gemar menuangkan isi hati mereka kepada riya. Salah satunya upik. Upik adalah sahabat riya dari smp. Dia selalu menuangkan isi hatinya kepada riya setiap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Berbeda dengan riya yang selalu tertutup kepada upik.
“ri!” panggil upik suatu hari saat ia ingin curhat. “ri, aku mau curhat nii..”
“yeee.. curhat, curhat aja lagi. Biasanya kan juga gitu.” Sahut riya yang sedang sibuk tengah mencari buku.
“ri!” panggil upik untuk kedua kalinya
“apaan sih pik? Dari tadi ra,ri,ra,ri mulu.. kalo mau curhat teh sok atuh mangga jelasken..” ujar riya sedikit kesal dengan upik
“yaudah sssstt dengerin dulu” kata upik sambil menyondorkan jari telunjuknya ke mulut riya supaya riya bisa sedikit lebih tenang. “aku suka sama berlin!”
“haa?” sahut riya nada spontan
“iihhh ssstttt.. jangan berisik ri, ini perpus. Gimana sih?” kata upik
Dengan raut wajah kaget dengan sedikit menelan ludah riya pun menanggapi curhatan upik dan segera menutup buku yang sejak tadi tengah dibacanya.
“kamu serius pik?” Tanya riya penasaran
“ya serius.. lah mbok pikir aku lagi ngelawak opo?” ujar upik
“oh.. terus?” Tanya riya yang sedikit kebingungan menanggapi curhatan upik
“kok terus too? Bantuin aku gitu lo buat dapetin berlin! Kamu lak pernah berteman se sama dia!”
“oh gampang itu mah.. udah ya aku mau baca buku lagi nih,, ntar tak sampaikan salammu ke berlin. Oke?”
“siip deh,, kamu emang sahabatku yang paling baik” ujar upik sambil mencubit pipi riya “aku kembali ke kelas dulu ya.. daa!!!” upik segera meninggalkan riya yang masih asik membaca buku di perpustakaan itu
Setelah mendengar curhatan upik, riya terlihat sedikit termenung dan melamun. Apa yang sebenarnya riya pikirkan? Tak ada yang mengetahuinya. mungkin ia sedang memikirkan cara bagaimana menyatukan upik dan berlin.
“plokk” terdengar suara tepukan di pundak riya yang membuat riya tersontak. Tidak lain tepukan itu adalah tangan berlin yang sengaja iseng
“astaghfirullah… ngagetin aja deh..” ucap riya sambil mengelus dadanya
“abisnya situ ngelamun sih.. ngelamun apaan ri?” Tanya berlin
“ngelamunin kamu!” jawab riya culas
“aku? Tumben situ ngelamunin aku? Ciyeee” kata berlin yang merasa GR
“pliss deh lin, bisa gak jangan GR dulu kenapa sih?” ucap riya spontan melihat perilaku berlin yang sepertinya mulai GR. “tadi upik bilang ke aku katany dia suka sama kamu! Maka dari itu aku cari cara gimana supaya situ sama upik bisa jadi couple.” Jelas riya kepada berlin
“he? Upik? Jangan becanda ri, gak lucu!”
“ sapa juga yang mau becanda. Upik barusan dari sini. Dia bisikin ke telinga aku. Katanya dia suka sama kamu.” Ujar riya
“oohhh…kalo aku sukanya sama kamu gimana?” kata berllin sedikit menggoda riya
mendengar ucapan berlin, riya kaget.
“oke-oke aku ga akan becanda lagi.. pisss” ucap berlin (sembari mengangkat 2 jarinya). Emmm… upik ya? Dia cantik sih, pinter pula. Boleh lah..” ujar berlin
Riya hanya menatap berlin dengan tatapan yang tajam
“oke lah aku pergi dulu yaa… daa” berlin pun pergi meninggalkan riya. Bel sudah berdentang,waktunya pulang. Riya yang biasanya ditawari pulang oleh berlin, kini berlin pun berubah mendekati upik. Dan menawari upik setiap pulang sekolah. Melihat hal itu, riya hanya bisa memandang mereka berdua yang tengah asik berbincang. Riya pun mempercepat langkahnya yang hendak menuju pulang.
Rabu. 11 Desember2014
Waktu sangat berjasa untuk hari ini. Rasanya sungguh bahagia tak terkira. Walau sedetik, saat itu masih ada hingga sekarang.suaranya yang khas membuat hariku semakin cerah. Entah ada apa dengannya. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Terkadang dia membuatku penuh dengan pertanyaan. Dia memperhatikan? Ataukah hanya simpati? Atau hanya kebetulan? Entahlah hanya tuhan yang tau.
Seringkali aku ingin melontarkan pertanyaan. Tapi entah mengapa saat dihadapkan dengan matanya,pertanyaan itu hilang begitu saja. Tapi untunglah diri ini pandai menyembunyikan perasaan hingga sepanjang aku bertemu dengannya tidak pernah ada kata “salting”.
Waktu itu begitu cepat,seakan tuhan telah merencanakan itu semua. Mungkin tuhan ingin mengujiku atau mungkin ingin memberiku sebuah hadiah kecil karena doa yang telah kupanjatkan setiap saat. Saat ini hanya dengan “berdoa” lah caraku mengasihinya. Aku berdoa supaya saat-saat seperti itu bisa terulang kembali.
Tapi kau sekarang tlah berubah wahai kawan yang ku kasihi sedari dulu. Mungkin tuhan mendengar apa yang ku doakan setiap hari untukmu. Tuhan mengabulkannya dengan cara kau dijadikan lebih dekat denganku untuk saat ini. aku merasa senang. Senang sekali. Tapi keadaanmu yang sekarang tidak seperti dulu kawan kasihku. Pengagummu saat ini lebih banyak dari artis papan atas bagiku. Tidakkah kau mengetahui betapa sedihnya hati ini?
Baru kali ini aku merasakan apa itu jatuh cinta. Jatuh cinta yang dilandasi perasaan yang tulus dan ikhlas. Memang, dari dulu aku mempunyai kawan kasih sepertimu. Tapi mereka semua hanya ku anggap sebagai sahabat saja jika kau mengetahuinya. Darimulah aku sadar bahwa “cinta” memang ada.
Kawan kasihku, aku memang sangat senang untuk sekarang. Tapi aku juga sangat sedih untuk sekarang. Aku tidak ingin menjadi saingan mereka. aku tidak punya apa-apa. Sedangkan kau juga terlalu sempurna buatku. Kau sempurna. Banyak orang diluar sana yang lebih baik dan lebih pantas untukmu. Terima kasih untuk semua yang tlah kau berikan padaku. Trima kasih
Matahari mulai kembali ke persinggahannya. Senja mulai terbuka. Keheningannya membuat hati riya semakin merana. Dan kembali riya menumpahkan isi hatinya di depan laptop mungilnya tersebut. Ia hanya bisa bicara kepada benda itu. Dan hanya doa yang ia panjatkan setiap waktu yang bisa ia harapkan suatu saat dapat terkabul.setelah lama ia mendekam dalam kamar kecilnya, riya pun berniat mencari udara segar. Tetapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“tokk..tokk.” suara ketukan itu semakin keras, dan riya mulai menyahut sambil mematikan komputernya.
“iya.. sebentar!!” teriak riya lumayan keras.”eh, ditto.. ada apa? Emm.. masuk dulu deh” mempersilahkan teman sekelasnya itu untuk duduk.
“gini ri..” belum sempat melontarkan tujuannya, riya keburu menanyakan minuman. “eh.. mau minum apa ni? Sebenernya tadi aku mau ke supermarket beli minuman tapi keburu kamunya datang, jadi di rumahku Cuma ada air putih doang.”
“gapapa ri, jangankan air putih, air kobokan juga gapapa.” Suasana mulai santai setelah dari tadi kaku.” Haha bisa aja. Aku ga sejahat itu kok..” riya pun mulai ke dapur mengambilkan jamuan sederhana untuk ditto. “ini dit, diminum. Jadi kamu kesini mau apa ni?” riya kembali menanyakan maksud kedatangan ditto
“oh ya jadi begini, aku tahu kalo kamu itu sebenernya suka nulis kan?” riya Cuma mengangguk. “nah, aku ditawari temenku untuk ikut semacam festival film pendek. Nah aku bingung mau angkat cerita apa. Aku mau minta inspirasi dari kamu.”
“oh, boleh.. sebentar, tunggu sini.” Riya keluar dari kamar sembari membawa laptop kecilnya. “nah, ini dit, beberapa catatan aku.”
“wah!banyak banget ri.. bisa-bisa lebaran baru kelar aku baca ini semua.” Wajah ditto kaget melihat catatan riya.
“ya gak sampe lebaran juga kalii… ya udah sebab ini udah malem, besok aja deh aku certain intinya ke kamu. Besok di kelas jam istirahat deh.”
“ya udah.. aku pulang ya.. selamat malam” pamit ditto.
Pagi ini cuaca kota Jakarta begitu cerah. Langit tampak bersih. Meskipun masih ada sedikit polusi yang selalu menghiasi kota metropolitan itu. Sekolah riya tampak bersih,begitu juga dengan ruang kelasnya yang selalu terlihat nyaman dengan sedikit pemandangan para siswa yang sedang berbincang. Pemandangan itu tak luput dari riya yang sedang menjelaskan perihal pengalamannya kepada ditto.
“ri,, stop deh.” Ditto menghetikan penjelasan riya.
“apa? Ceritanya kan belum selesai?” Tanya riya heran
“kamu ga punya pengalaman tentang romantisme?” ditto bertanya dengan wajah penasaran “soalnya dari tadi kamu cerita masalah sosial mulu. Aku bosen dengernya”
“emm.. sebenernya ada sih dit. Tapi ini pengalaman aku sendiri. Aku malu kalo cerita ke orang lain..” belum sampai seleai bicara, ditto menyahut omongan riya “sssttt.. udah tenang aja aku ga akan cerita ke siapa-siapa” jelas ditto (sambil mengotak-atik laptop riya)”
“eh jangan dibaca..” ujar riya
“ssstt…ini nih baru seru…” ditto mulai membaca catatan harian riya. “ri, kamu suka sama berlin?” Tanya ditto dengan raut wajah sedikit tercengang.
“ya begitulah..” jawab riya pasrah.
“terus kamu selama ini comblangin upik sama berlin maksutnya apa?” ditto semakin penasaran.
“ya aku kasihan dit ama upik. Apalagi dia sahabatku dari smp.” Ucap riya menjelaskan
Tak sadar, terlihat berlin dari jauh sedang memperhatikan mereka berdua. Berlin Nampak cemburu melihat kebersamaan ditto dengan riya. Ia pun menghindar dan pergi menemui upik.
“kamu kasihan ama orang lain, tapi perasaanmu gak kamu kasihanin? Kamu terlalu baik ri.”
“udah ah.. lanjutin deh itu pekerjaanmu. Kamu mau milih yang mana ceritnya?” riya mencoba mengalihkan pembicaraan.
‘aku pilih ini! tapi ini catatanmu kurang lengkap ri, seharusnya kamu tambahin satu lagi deh, biar pas jadi 8 catatan.” Ditto memberi usul. Tapi tiba-tiba riya tak sadarkan diri. “ri? Bangun ri.” Dengan spontan ditto membawa riya ke UKS.
Waktu berjalan begitu cepat. Matahari mulai condong ke barat. Tapi langit tampak sangat gelap. Suara halilintar mulai terdengar. Nampaknya malam ini hujan akan turun.
Sabtu, 14 Desember 2014
Catatan ke-8 dari riya untuk berlin
Aku tau kau tak akan pernah bisa menjadi milikku. Dunia pun bicara seperti itu. Walau begitu, cukup melihat senyummu saja itu sudah lebih dari cukup.aku selalu berdoa di setiap sujudku agar kau bisa bahagia kelak saat aku sudah tiada.
Aku hanya ingin mengatakan “I LOVE U BERLIN..AKU MENCINTAIMU.” Semoga besok,lusa entah kapanpun, kau bisa melihat pesanku ini bagaimanpun caranya. Mungkin saat kau melihat catatanku ini, aku sudah tinggal di alam yang berbeda denganmu. Jaga baik-baik upik,sahabatku. dia mencintaimu sebagaimana aku mencintaimu juga.
Terima kasih atas kenangan indah dan senyummu yang tlah kau berikan padaku selama ini. semoga kita bisa berjumpa di surga kelak..
Salam terkasih sahabatmu
Riya
Tak terasa air mata riya mengalir begitu deras. Hal itu membuat mata riya pada keesokan harinya terlihat sembap. Ditto yang sedari tadi memperhatikan riya, akhirnya berani melontarkan pertanyaan perihal kejadian kemarin siang.
“ri, kamu sakit ya? Wajahmu pucat sekali. Matamu nanar. Kemarin kamu juga sempat pingsan. Kamu sakit apa ri?” ditto bertanya (dengan volume suara yang lembut)
“aku divonis oleh dokter, bahwa aku menderita penyakit gagal ginjal. Dan umurku gak lama lagi. Aku tidak pernah cerita soal ini e siapa-siapa. Termasuk upik ataupun berlin. Kamu jangan cerita ke siapa-siapa soal ini. Cuma kamu yang bisa aku percaya saat ini.” riya berkata dengan nada terputus-putus. Nampaknya ia memendam rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya. “ aku Cuma berpesan, kalo aku udah ga ada, tolong kasih ini ke berlin.” Riya menyodorkan laptopnya. Dan tak lama, riya pun menutup matanya. Jantungnya berhenti, detak nadinya pun ikut berhenti.
Tepat 2 hari setelah kepergian riya, ditto datang ke rumah berlin bermaksud menyampaikan amanah riya.
“aku tau kamu sangat terpukul kan setelah riya pergi? Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi saat detik-detik riya mau meninggal, aku ada di samping dia. Tapi kamu? Kamu malah berduaan dengan upik. Sahabat macam apa kamu? “ ditto merasa kesal dengan berlin. Dan meluapkan amarahnya di depan berlin. “ aku kesini, Cuma mau ngasih ini. coba kamu buka, dan baca deh.!”
Berlin pun segera membuka dan membaca seluruh catatan riya. Tanpa sadar air mata berlin mengalir perlahan. Detak jantungya seolah berhenti sekejap. Lehernya terasa tercekik hingga tak dapat bernapas lagi. Selepas ia membaca catatan riya, ia langsung lari menuju tempat dimana riya dimakamkan. Disana ia langsung berkata sambil teriak “TAUKAH KAU RIYA?? AKU JUGA MENCINTAIMU!!!! AKU SANGAT MENCINTAIMU!!!!” tak peduli angin bertiup kencang, sekalipun badai datang, seolah tak ia hiraukan. Setiap hari ia berkunjung ke makam riya. Tak peduli dengan masa depannaya, ia tak mau menikah dengan gadis manapun. Ia cukup merasa tenang hanya dengan membaca catatan riya sambil memejamkan mata seolah riya tengah berada di sampingnya saat itu juga.

images (66)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s