BATIKKU,KEBANGGAANKU..(art of indonesian)

Sang mentari mulai memberi salam kepada penghuni kota pahlawan itu. sayuk-sayuk embun masih terasa dingin di jemari para makhluk sang pencipta. Terdengar suara klakson saling bersahutan menandakan aktivitas kehidupan akan segera dimulai.
Di tengah ributnya

deru kendaraan bermotor itu, seorang gadis mungil yang tidur diatas ranjang yang sudah reyot,beralaskan sebuah tikar baru tersadar dari alam mimpinya.
“ayu..! bangun nak, kamu tidak sekolah?” kata wanita paruh baya itu lembut (sambil memegang pesanan jahitan ditangan kirinya sementara tangan kanannya mengguncang tubuh anaknya yang mungil tersebut)
“iya bu.. sebentar lagi…” jawab ayu lirih (sambil membetulkan letak selimutnya)
“sudah lah bu.. mungkin ayu sudah tidak mau sekolah lagi. Biarlah, biar dia bekerja saja mencari uang, itung-itung membantu kita. Ya kan?” celetuk kakak sulung ayu (tersenyum sinis)
Mendengar perkataan kakaknya, tidak pikir panjang, ayu langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi.
5 menit kemudian
“buk,pak, ayu berangkat sekolah dulu ya?” pamit ayu (sambil mencium tangan kedua orang tuanya)
Dengan memakai seragam merah putih, dimana warna putih itu sudah mulai tampak pudar, banyak bercak-bercak noda warna kuning menandakan seragam itu sudah tidak layak pakai untuk seorang murid yang sedang menimba ilmu. Tapi, mau bagaimana lagi karena kondisi dan keadaan yang memaksalah ayu harus tetap memakai seragam tersebut. begitu juga dengan keadaan sepatunya, mulut sepatu itu sudah menganga, tapi ayu mensiasati untuk memberikan lem di bagian mulutnya supaya tidak terbuka lagi.
Ayu tergolong anak yang cukup pandai , hanya saja penampilannya sedikit kumal menyebabkan semua teman-temannya menjauh darinya. Wajar saja, sebagian besar teman-temannya memang anak yang bisa dibilang selalu berkecukupan. Kalau berangkat ada yang diantar papanya yang ingin berangkat ke kantor, ada yang diantar mamanya yang ingin arisan, ada juga yang membawa mobil mewah dengan sopir pribadi. Sekolah Ayu juga tergolong sekolah unggulan, lantainya mengkilat, segala fasilitas di sekolah itu pun serba mewah. Pantas saja banyak teman-teman Ayu yang mengucilkan dirinya.
“heh anak udik, udah jelek,item,kampung, bau lagi. Kamu itu gak pantes sekolah,mending kamu ngemis aja sana di lampu merah…ha..ha..ha..!!!!!!!” ejek salah seorang teman ayu yang membenci dirinya (sambil menjambak rambutnya yang lurus tergerai)
Ayu tetap saja diam dan tidak menghiraukan perkataan teman-temannya itu.
“OMG.. HELLO.. punya telinga gak sih? Diajak bicara malah plonga-plongo aja…!” teman lainnya ikut menimpali.
Karena telinganya sudah panas, Ayu segera berdiri dan saat ingin beranjak meninggalkan teman-temannya itu. Ria, salah seorang teman yang tidak suka pada Ayu segera menarik rambutnya dan ingin menyiram Ayu dengan se-ember air kotor bekas cuci piring di kantin. Tapi Ayu berusaha mencegah ember tersebut agar tidak jatuh ke kepalanya. Sedangkan Ria tetap mendorong ember itu agar jatuh ke badan Ayu.
“jangan Ri, nanti bajuku kotor…jangan” pinta Ayu (matanya tampak berkaca-kaca)
“baju kamu itu udah kotor, bau lagi. Sekalian aja ditambahi ini ni biar tambah kumal..” olok Ria (sambil menumpahkan air kotor bekas cucian itu secara perlahan)
Dan byurr…. tumpahlah air itu ke sekujur badan Ayu. Ayu pun menangis dan lari meninggalkan teman-temannya. Dengan keadaan basah kuyup, ayu menyususri jalan setapak menuju pulang ke rumahnya. Sambil meneteskan air mata, ia merenungi dan meratapi semua nasibnya.
“ apa aku bekerja saja ya? Daripada aku sekolah, membebani kedua orang tuaku saja. Tapi, aku ingin sekali menjadi penjahit batik seperti ibu, sukur-sukur bisa jadi designer terkenal seperti ivan gunawan yang ada di tv-tv itu.” pikirnya (BERIKAN PEMBACA PENASARAN)
“Ayu!!! Tunggu!!!!” teriak Ica, sahabat ayu dari belakang
Tapi teriakan itu belum bisa menyadarkan ayu dari lamunannya. Dengan sekuat tenaga, Ica lari mengejar langkah Ayu dan
“PLOKkk!”
Suara tepukan tangan itu membuat Ayu tersentak dan terbangun dari lamunannya.
“ya ampun Ica,, ngagetin aja deh..” kata Ayu dengan ketus
“eh yu, kamu itu udah aku panggil dari tadi, tapi masih aja ngelamun. Emang apa sih masalah yang sekarang nyantol di pikiranmu?” tanya Ica sahabat dekatnya
“ya ada lah, eh aku duluan ya ada urusan hehe” jawab Ayu ( meninggalkan sahabatnya)
saat tepat di depan rumah, ayu melihat sebuah keributan yang terjadi antara bapak dan ibunya dengan wanita paruh baya yang membawa sebuah buku catatan.
“eh kalo ngutang aja semangat, giliran bayarnya aja diulur-ulur.. bisa rugi bandar dong…” kata wanita itu (sambil berkacak pinggang)
“beri waktu kami 2 hari lagi ya bu.. saya mohon..” pinta bapak ayu
“ada apa ini pak?” tanya ayu tiba-tiba mendekati bapaknya
“ahh begini saja, saya akan kasih kamu waktu, tapi anak kamu ini harus kerja di rumah saya tanpa digaji. Gimana?” tanya ibu itu.
“ya sudah pak tidak apa-apa. Ayu kan bisa kerja di rumah bu lilis ini sepulang sekolah.” Jelas Ayu
“jangan yu, biar bapak saja yang kerja di rumah bu lilis.” Bantah bapak ayu
“tapi kaki bapak kan sakit? Gimana bisa bekerja?” tanya Ayu khawatir
“sudah, tidak apa-apa kok, Ayu kan juga harus belajar.”
“ya sudahlah, intinya salah satu dari kalian harus kerja di rumah saya. Bay..!” kata bu lilis ketus (AYU MELIHAT PERLAKUAN TIDAK BAIK BU LILIS PADA AYAHNYA)
Matahari semakin condong ke barat menandakan petang akan segera tiba. Tugu pahlawan berdiri tegak di tengah kota surabaya seakan menantang alam. Hilir mudik kendaraan bermotor tidak pernah terhenti oleh waktu. Di sudut kota pahlawan itu terlihat sebuah rumah sederhana sedikit kumuh yang ditinggali oleh lima anggota keluarga. Ayu yang tampaknya gelisah mencoba mendekati ibunya yang sedang sibuk menyalakan mesin jahitnya yang sudah mulai rewel.
“bu, tadi ibu guru bilang ke ayu kalau uang SPP dan segala tunggakan harus segera dilunasi, kalau tidak dilunasi minggu ini, ayu tidak boleh ikut ujian nasional minggu depan.” Kata ayu (sambil menundukkan kepalanya dan menarik jari-jarinya untuk mengurangi rasa gelisahnya)
“tapi ibu belum punya uang e cah ayu..” keluh bu rodia (sambil mengotak-atik mesin jahitnya)
“memangnya berapa sih jumlah uang yang harus dilunasi?” tiba-tiba bapaknya berjalan sedikit pincang sambil membawa kedua tongkat mendekati ayu dan mengajukan pertanyaan.
“anu pak.. lima ratus ribu…” jawabnya terbata-bata (keringatnya mulai bercucuran)
“sudahlah yu, kamu itu gak usah sekolah lagi kayak kita ni mending bantu bapak dan ibu cari uang. “ celetuk tari, kakak sulung ayu yang sudah putus sekolah dari SD.
“iya yu, paling-paling nanti kamu juga bakal kerja di kandang kambing kayak bapak, ya gak mbak?”
Remeh mina, anak bu rodia yang bernomor dua itu.
“iya dek.. paling-paling si ayu ini bernasib sama kayak kita.. haha..” sahut kakak sulung ayu.
“huss kalian ini syirik aja sama adekmu. Siapa tau nanti adekmu ini nasibnya bisa lebih baik dari kalian berdua.” Bela bu rodia terhadap anak bungsunya
“(tersenyum sinis)” tari dan mina
suasana semakin sunyi, jangkrik-jangkrik kecil mulai bernyanyi. Lampu-lampu kecil itu sudah tampak menerangi rumah pak heru yang luasnya hanya 5*8 meter. Gemricik air hujan masih terus mengguyur rumah sederhana itu. Ayu yang tampak gelisah memikirkan nasibnya hanya duduk terpaku di ruang tamu yang berdekatan dengan dapurnya itu.
“kalau ayu putus sekolah gimana ya? Tapi ini kan tanggung, udah di ujung batas mau lulus ke SMP, eh malah putus.” Renungnya dalam lubuk hati yang paling dalam.
“ayu, kenapa wajahnya ditekuk begitu? Kayak baju belum disetrika saja.” Ucap bu rodia yang mengenakan daster kumuh mendekati ayu dan membuyarkan lamunannya.
“ah ibu ini bisa aja, gak apa-apa kok bu.” Ujar ayu (sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal)
“tenang saja yu, ibu akan jual cincin kawin ibu ini, supaya kamu bisa melanjutkan sekolahmu.” Ucap bu rodia (sambil memperhatikan cincin emas yang melingkar di jari manisnya)
“jangan bu, ndak apa-apa kok. Lagipula itu kan perhiasan satu-satunya yang ibu miliki.” Kata ayu mencoba mengelak
“sudah ayu, tidak apa-apa. Besok mintalah pada gurumu supaya dikasih perpanjangan waktu 2 hari lagi. Ibu akan menjual cincin ini dan melunasi semua tunggakan sekolahmu.” Jelas bu rodia
“baik bu, terima kasih.” Kata ayu (wajahnya mulai tampak berseri-seri)
Pagi ini cuaca kota surabaya tampak cerah. Langit biru diatas sana tampak terlihat sangat bersih, tidak ada awan sedikit pun. Air sungai dibawah jembatan suramadu itu terus mengalir dengan tenang seakan tak pernah lekang sepanjang zaman. Jalanan kota itu tampak terlihat basah, sebab tadi malam hujan mengguyur kota pahlawan itu. bel sekolah mulai berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai. Bu rere, guru bahasa indonesia sudah berjalan memasuki ruang kelas sambil membawa beberapa map di tangannya.
“anak-anak, ujian nasional akan segera tiba. Kalian harus belajar lebih giat lagi. Karena nanti, selepas ujan ini berakhir, akan diadakan pesta perpisahan yang sangat meriah.” Ujar guru bahasa itu.
“yeeeyyy… hore… “ anak-anak di dalam kelas itu tampak bersorak.
Di tengah kegaduhan yang terjadi di dalam ruangan itu, tiba-tiba bu rere berjalan mendekati ayu yang sejak pagi tadi hanya diam membisu.
“ayu, bagaimana? Kapan kamu akan melunasi tunggakan sekolahmu?” tiba-tiba bu rere mengajukan pertanyaan
“insyaallah besok bu.” Jawab singkat ayu
“ya sudah, ibu tunggu sampai besok. Kalau besok kamu belum melunasinya, kamu tidak boleh ikut ujian nasional.” Ujar bu rere
“baik,bu.”
Semakin siang, matahari semakin garang. Panasnya bukan main. Para pemulung di sudut kota tampak terus mengais sampah walaupun keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya. Baginya, panas matahari lebih bisa diterima daripada laparnya perut. Ayu yang berjalan di pinggir kota tampak sedang memerhatikan toko batik di sebrang jalan dekat mall besar yang terpampang megah tersebut. dilihatnya toko itu nampak sepi sekali. Para pembeli kebanyakan berbelanja di mall.
“bagusnya batik itu, andai saja baju itu bisa ku kenakan saat pesta perpisahan nanti. Pasti aku sangat senang sekali. Tapi baju batik yang dijahit oleh ibu juga tidak kalah bagus sih. Apa aku boleh ya minta pada ibu satu saja baju batik yang dijahit olehnya. Ah nanti coba aku tanyakan lah, semoga saja boleh..” pikirnya penuh harap.
Karena tidak sabar ingin meminta baju batik pada ibunya, ayu pun mempercepat langkahnya dan saat tiba di depan tempat pembuangan sampah, Ayu memperhatikan gundukan sampah itu dengan teliti. Dan dilihatnya sebuah baju batik yang masih rapi dan bagus, hanya saja ada sedikit robekan di bagian siku dan pinggangnya
“astaga.. baju batik ini kok bisa ada disini? Rakyat indonesia memang sangat keterlaluan. Mereka lebih suka memakai rok mini yang jelas-jelas jauh dari kehidupan budaya negara ini. kalau begini caranya, lebih baik batik diakui negara luar saja. Karena mereka lebih bisa menjunjung tinggi nama batik daripada kita yang lebih membanggakan budaya luar.” Kata ayu marah dalam hatinya
Akhirnya dibawanya pulang baju batik itu oleh ayu. Ia segera memperlihatkan baju itu pada ibunya.
“bu, tadi aku menemukan ini.” kata ayu (sambil mengulurkan tangannya yang berisi baju batik bekas)
“wah baju ini kan masih bagus, kamu mengambil dimana nak?” tanya bu Rodia
“tadi aku menemukan ini di TPA bu, oh ya bu aku boleh tidak meminta satu saja baju batik yang dijahit ibu buat pesta perpisahanku nanti?” tanya Ayu
“bukannya tidak boleh yu. tapi ini semua bukan milik ibu. Baju yang kamu bawa ini kan masih bagus, nanti biar ibu jahit bagian yang robek ini ya?” saran ibu ayu
“ya sudah bu tidak apa-apa.” Ucap Ayu (dengan raut wajah menampakkan sedikit kekecewaan)
2 minggu setelah kejadian itu, dimana ujian nasional sudah berakhir. Pesta perpisahan pun diadakan sangat meriah. Semakin siang,suasana semakin ceria. Raut wajah anak-anak di sekolah dasar itu tampak berseri-seri karena hatinya bahagia. Orang tua murid juga tampak bahagia. Mereka saling berkenalan dan berbincang sesukanya. Ayu yang mengenakan baju batik hasil temuannya di tempat pembuangan sampah itu, tampak bahagia dan percaya diri walaupun banyak teman-temannya yang mencemooh dirinya
“emang dasar anak kampung ya, gak punya baju yang lebih bagus gitu kayak kita-kita. Baju norak gitu masih aja dipake.” celetuk ria,salah seorang murid yang hidupnya serba kecukupan.
“ini itu baju bagus, gak norak.” Bantah ayu (dengan suara lantang)
“hahahahaha… baju jelek dan kampungan gitu dibilang bagus…dasar udik!” seru ria
“eh.. ada apa ini kok ribut-ribut?” jangan merusak suasana dong kalian ini . ria, kamu dipanggil sama papamu itu, cepat kesana.” tiba-tiba bu rere datang dan melerai keributan itu.
“baik bu..” kata ria pasrah
“ayu, kenapa kamu pakai baju batik? Apa tidak ada baju lain yang lebih bagus?” tanya bu rere heran
“menurut ayu, baju batik ini lebih bagus daripada baju yang dikenakan oleh teman-teman. Bukankah kita wajib membanggakan produk dalam negri? Apalagi ini kan warisan leluhur budaya indonesia bu?” tanya balik ayu pada guru bahasa Indonesianya itu
Bu rere pun terkesima dengan jawaban muridnya itu. setelah itu ia menarik napas panjang. dihirupnya udara pada siang itu dengan sangat kuat.
“ibu bangga denganmu ayu, jarang sekali ada anak yang bangga mengenakan batik sepertimu.” Pikir bu rere dalam hati (sambil mengelus-elus pundak ayu)
Hari demi hari, waktu cepat berlalu. Ayu sudah menjadi siswa SMP. Karena biaya di SMP lebih mahal, maka ayu harus bekerja membantu ibunya membuat batik dan dijualnya di emperan toko cina. Udara di kota surabaya saat itu sangat gerah. Asap dari knalpot kendaraan bermotor semakin meraung-raung menyesakkan napas. Walau begitu, ayu tetap semangat menjual batiknya yang diletakkan di beberan kecil di depan toko cina. Tak sesekali waktu, ia dimarahi oleh pemilik toko tersebut karena dianggap mengganggu keindahan tokonya.
“udah dibilangin jangan jualan disini juga masih bandel ya..daganganmu yang jelek itu merusak pemandangan toko saya yang bagus ini.” kata sang pemilik toko cina suatu hari
“maaf ci, saya tidak tau. Saya akan pergi dari sini. Sekali lagi saya minta maaf.” Ucap ayu (sambil mengusap keringatnya yang mau menetes)
Dari emperan toko satu ke emperan lainnya, ayu tak mengenal kata lelah demi sekolahnya. Dengan membawa topi dan tas usangnya, ayu berkelana mencari uang. Ketika matahari tepat berada di atas kepala, keringatnya meleleh bak lilin kepanasan. Tetapi sesekali angin berhembus, keringatnya menguap dan kering. Tak jarang dagangan batiknya itu dilindas ban kendaraan bermotor. Maklum lah tempat dagangan ayu sangatlah sempit hingga harus mepet ke tengah jalan. Walau begitu, ayu tetap sabar. Hingga suatu hari ada penggusuran oleh satpol PP, ayu harus berlari dan hanya bisa menyelamatkan setengah dari dagangannya. Sandal jepit yang dikenakannya sampai putus dan terpaksa ia harus berlari tanpa alas. Dan saat sampai di rumah, didapati kakinya sudah melepuh dan berlumuran darah karena tergores kerikil-kerikil yang tajam.
“walah yu.. kok bisa ini lho kakimu sampai seperti ini..” tanya bu rodia khawatir (sambil membersihkan luka di kaki anak bungsunya)
“sudahlah yu… ngapain sih kamu capek-capek cari uang hanya demi bersekolah? Lebih baik uang itu dibelanjakan untuk keperluan sehari-hari.” Ujar tari
“iya, kakak juga gak yakin kalau kamu nanti bisa mempertahankan sekolahmu sampai jenjang SMU. Lebih baik sekarang kamu cari kerja saja dan gak usah sekolah.” Desak mina
“tapi kak, aku mau sekolah sampai aku bisa meraih cita-citaku.” Bantah ayu
“memangnya kamu punya modal buat sekolah sampai SMU? Paling-paling habis ini kamu putus sekolah.” Ucap tari
“ya rezeki kan bisa dicari kak.” Jawab singkat ayu
Walaupun kakak-kakaknya terus meremehkan dan mendorong ia untuk putus sekolah, ayu tetap berisi keras agar dapat meraih cita-citanya sebagai designer. Terutama designer batik. Ia yakin suatu saat nanti dapat membanggakan ibunya yang telah lama mengajari dirinya untuk tetap mencintai batik sebagai warisan leluhur budaya indonesia. Berjalan seiring waktu, ayu dapat membuktikan pada kakak-kakaknya bahwa ia tidak putus sekolah sampai di SMP saja. Sekarang, ayu dapat bersekolah ke SMU.
“hebat kamu yu, diantara kami, hanya kamu saja yang dapat sekolah hingga SMU. Sekarang kakak tidak akan menyuruhmu untuk putus sekolah lagi, justru kakak akan mendukungmu. Kalau bisa sampai kuliah di universitas yu.” Ucap tari suatu hari.
“makasih kak, ini semua juga berkat kakak kok.” Jawab ayu merendah
Azan shubuh mengayun syahdu seiring hembusan angin pagi yang segar. Gema keagungan tuhan seakan membangunkan setiap insan yang masih tidur lelap. Gemricik air wudhu membasahi wajah-wajah yang pasrah. Desah napas dari mulut-mulut yang melantunkan do’a bagaikan irama syahdu yang penuh harap untuk menapak hari esok. Ayu yang bangun pagi-pagi karena terlalu semangat menjalani hidupnya hari ini segera mengambil air wudhu dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini di sekolahnya ada lomba melukis. Ayu berniat untuk mengikuti lomba itu. ia akan melukis motif-motif batik yang selama ini sudah diajarkan oleh ibunya. Dan saat seleksi, ayu terpilih sebagai wakil sekolah untuk mengikuti lomba itu ke tingkat kabupaten. Ayu terus belajar membuat motif-motif batik dari ibunya yang hanya bekerja sebagai penjahit. Dan saat lomba itu dimulai, para juri heran dengan lukisan ayu.
“ayu hastari dari SMAN 25 ya?” tanya salah seorang juri
“iya” jawab singkat ayu
“kenapa kamu kok memilih batik sebagai tema lukisan ayu?” tanya salah seorang juri heran
“saya Cuma ingin membanggakan ibu saya saja pak. Dan saya juga ingin menjunjung tinggi nama batik hingga ke mancanegara.” Jelas ayu sedikit grogi
Semua juri tercengang mendengar jawaban ayu. Setelah itu mereka memberi nilai dan mengangguk-anggukkan kepala seolah sangat puas dengan jawaban peserta satu itu. 2 jam sudah berlalu. Proses seleksi pun sudah selesai. Tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni puncak acara yaitu pengumuman siapa yang akan menjadi pemenang lomba melukis antar sekolah.
“yang menjadi pemenang lomba melukis antar sekolah dan akan maju ke babak selanjutnya adalah……. AYU HASTARI DARI SMAN 25 DENGAN TEMA BATIK…!!!” seru salah seorang juri
Ayu pun sangat bahagia. Ia pulang membawa sebuah piala dengan uang tunai. Dalam perjalanan pulang, ayu membayangkan betapa bahagianya ibu nya yang sudah mengajari dia melukis motif batik hingga ia bisa mendapatkan piala yang ada di genggamannya saat ini. mulutnya seakan tak mau berhenti untuk bernyanyi-nyanyi kecil. Tampaknya kebahagiaan ayu ini ingin sekali cepat ia sampaikan ke ibunya. Karena sudah tak sabar, ayu pun berlari kecil guna mempercepat langkahnya. Dan akhirnya ia pun sampai di depan rumahnya. Rumah ayu tampak aneh. Banyak orang berdatangan dan mengerumuni ruang tamu ayu. Sebenarnya ada apa itu?. perasaan ayu menjadi was-was. Hatinya tidak tenang. Dirinya sangat ingin berlari sekencang-kencangnya menemui ibunya. Tapi entah kenapa jantungnya seakan berhenti sekejap. Aliran darahnya seakan naik ke atas kepala. Denyut nadinya seakan berhenti. Kakinya tidak bisa digerakkan hingga membuat ia diam terpaku. Ayu pun segera menyerang keadaan itu. ia langsung masuk ke dalam rumah dan di dapatinya tubuh ibunya sudah terbujur kaku tak berdaya. Mata ayu tampak nanar begitu melihat keadaan ibunya. Ia seakan tidak percaya dengan ini semua. Piala yang tadinya sangat berharga sudah tak diperdulikan lagi. Piala itu pecah hingga menjadi beberapa kepingan.
“kak mina, kak tari, ibu kenapa kak? “tanya tari terbata-bata seolah tak bisa mengucapkan banyak kata
“sabar yu, ibu sudah meninggal. Ibu sudah tenang disana.” Bisik tari di telinga adik bungsunya (sambil memeluk tubuh ayu dengan erat)
Begitu mendengar penjelasan kakaknya, ayu pun sudah tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia menangis di pelukan kakaknya. Sesekali pandangan matanya tampak kosong. Ayu pun terus berlarut dalam kesedihan. Hingga jasad ibunya sudah dimakamkan pun, ayu masih saja menangis. Dalam suasana hening di malam hari, ayu masih saja menangisi ibunya yang sudah tiada. Tari dan mina mencoba memberi penjelasan pada adiknya.
“yu, sudahlah.. ini semua takdir allah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Ucap mina mencoba menenangkan adiknya.
“tapi kak, ayu sayang sama ibu.” Kata ayu yang masih meneteskan air mata
“kakak juga sayang sama ibu. Kita semua sayang sama ibu. Tapi kalau ayu menangis terus seperti ini, ibu tidak akan tenang disana. Ayu mau ibu tidak tenang disana?” tanya tari
Ayu hanya menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang membuyarkan percakapan mereka bertiga. Mina pun segera membukakan pintu. Dan ternyata ada seorang laki-laki yang tengah mencari anak bernama ayu hastari.
“ayu hastari nya ada dek?” tanya laki-laki itu
“oh ada pak, silahkan duduk dulu pak, biar saya panggilkan adek.” Kata mina (sambil mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk)
Setelah menunggu beberapa menit, ayu pun keluar dari dalam rumahnya dan segera menemui laki-laki itu.
“ eh ayu, kamu masih mengingat saya?” tanya laki-laki itu
“lho, bapak ini bukannya juri di lomba melukis siang tadi ya? Bapak johan bukan?” tanya balik ayu penasaran
“iya betul sekali.” Kata laki-laki
“ada apa pak? Kok tiba-tiba datang kemari? Apa ada urusan yang belum terselesaikan mengenai lomba melukis siang tadi?” tanya ayu makin penasaran
“bukan yu, begini, bapak kan punya usaha batik kecil-kecilan di sebrang jalan sana. Nah bapak mau ayu menjadi designer nya. Apa ayu mau?” tanya pak johan
“tapi kan pak, saya ini belum terlalu profesional, saya masih belajar. “ kata ayu merendah
“tidak apa-apa yu, tapi firasat saya mengatakan, kamu itu mampu dan pantas mendapat jabatan ini.” desak pak johan
“baiklah pak, saya akan mencobanya besok.” Ucap ayu
“iya, terima kasih yu, saya tunggu kedatanganmu besok.” Ujar pak johan (sambil mengulurkan tangannya tanda sebuah kesepakatn dan kerja sama)
Aktivitas ayu sekarang semakin padat. Ia pun sudah tidak terlarut lagi di dalam kesedihan. Saat ia sudah lulus SMU, ia menjadi manager di butik yang dimiliki pak johan. Butik itu lumayan besar. Ia pun membayangkan betapa bangganya ibunya andai melihat kesuksesan ayu saat ini. ayu yang dulu menjadi pedagang emperan di depan toko cina, sekarang sudah berubah menjadi pemilik toko yang sudah sukses. Walaupun di depan butik nya itu ada pedagang emperan, ia tidak memarahi pedagang itu, karena ia tau bagaimana perihnya menjadi seorang pedagang emperan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s