CINTA MENGEJAR CITA

kmk
utamakan cita cita

saat mentari datang menyapa. waktu pun berjalan seperti biasanya. masa SD-ku sudah berlalu. teman lamaku yang bisa juga disebut teman dekatku sudah berpisah denganku. namanya vino. kenangan-kenanganku bersama vino tak bisa kulupakan.

bermain bersama,bercanda seadanya,ketawa sana sini. menjalani hidup sebagai anak kecil yang polos bersama dia. dengan berjalan seiring waktu aku  berpisah dengan vino. ia lebih memilih tinggal dan sekolah di jakarta daripada tinggal di desa yang cukup sederhana ini. aku yang dulu berbeda dengan sekarang. waktu dan tempat yang baru sudah menungguku untuk menghabiskan masa SMP-ku dengan teman yang baru pula

hembusan angin pagi yang sedikit membuat merinding tak bisa menghalangiku untuk tetap menjalankan tugasku seperti hari-hari biasanya sebagai seorang siswi. aku sebagai anak dari keluarga yang sederhana sedang bersiap menuju sekolahku yang bisa dibilang sekolah favorit. aku bisa masuk ke sekolah ini karena nilai danemku yang lumayan bagus sehingga aku bisa dapat beasiswa dan diterima di sekolah ini.namaku Sherlina,akrab dipanggil Erlin. kata temen-temen sih aku lumayan rajin tapi wajahku biasa-biasa aja, dengan memakai kacamata dan kerudung membuat wajahku semakin bulat. setiap hari saat aku malas pergi ke sekolah,aku selalu ingat dengan salah seorang teman cowokku yang baru ku kenal. agar aku kembali semangat pergi ke sekolah. dia yang mampu membuat mataku terpana dan tertuju padanya saat sedang berada di kerumunan banyak siswa. namanya Tara. entah mengapa, saat berada di kerumunan siswa, mataku selalu terpana dan tertuju padanya. padahal dia bukan anak gaul,model rambutnya tidak seperti boyband layaknya teman cowokku lainnya,penampilannya juga biasa aja tuh. dia mirip sekali dengan vino.mungkin kesederhanaanlah yang menjadi penyebab aku mengaguminya. senyumnya yang manis,wajahnya yang imut,kulitnya yang bersih membuatku tertarik pada dia. dan ada satu hal yang bikin lututku ga kuat menopang tubuhku saat berdiri di depannya. yaitu matanya yang bulat dan tatapannya yang tajam membuatku jadi melting.

suatu hari saat jam istirahat datang, aku pergi ke perpustakaan dimana letaknya tidak jauh dari letak kelasnya. tanganku memang memegang sebuah buku tapi mataku selalu tetuju pada ruang kelasnya. aku selalu berharap,pintu kelasnya terbuka dan aku dapat melihat senyumnya. dan tiba-tiba,,

“lin, sedang apa?” gertak salah seorang teman dekatku.

suara itu membuat konsentrasiku buyar seketika.

“kamu tidak liat aku sedang apa? aku sedang baca buku rin” jawabku agak ketus

“tanganmu memang pegang buku, tapi matamu mengarah ke kelas itu” ujar irin (sambil menunjuk kelas 9F,kelas Tara)

“enggak kok rin,aku…aku cuma..itu..”

“ehmm..yaudah gapapa. aku kesini cari kamu,mau kasih tau kalau nanti kita belajar kelompoknya ga jadi di rumahku tapi di rumah Dinda.” ujar irin memotong ucapanku yang gugup.

“oh gitu, ya udah gapapa. tapi aku ga tau rumahnya Dinda.” kataku (sambil sedikit mengerutkan keningku)

“tenang lin, nanti akan ku sms alamatnya. yaudah aku balik ke kelas duluan ya?” ucap Irin santai

“oh oke oke.” jawabku singkat

setelah kepergian irin dari hadapanku, kembali mataku mengarah ke kelas tara. pintunya masih tertutup rapat. tidak ada siswa yang keluar dari kelas itu. biarpun sedang jam istirahat.

“mengapa pintunya masih tertutup ya? ah mungkin sebentar lagi pintunya akan terbuka.” pikirku

sudah setengah jam lamanya aku masih bertahan di dalam perpustakaan. tapi pintu kelas itu belum juga terbuka. bel pun berbunyi. aku bergegas menuju kelasku.

hari pun semakin siang. matahari terletak tepat di atas ubun-ubun. panasnya bukan main. walau begitu aku harus tetap belajar ke rumah dinda.

“huh! panas banget ya hari ini. tapi kan aku yang bikin janji buat belajar kelompok di rumah Dinda. mau ga mau harus dateng nih ke rumah Dinda. ntar jadi kayak lagu dong AKU YANG BERJANJI AKU PUN YANG MENGINGKARI hehe” pikirku bercanda

tak lama kemudian, hp-ku yang jadul ini berdering. terlihat 1 pesan belum dibaca

“lin, rumah dinda di kompleks perumahan permata indah, blok B nomor 29” bunyi sms dari irin

“oke” balasanku singkat

dengan membawa tas punggung yang sedikit usang berwarna merah dan sandal dengan jepit berwarna putih, aku berangkat menuju rumah Dinda. ku kayuh sepedaku tiada henti walau panas terik matahari masih terasa.  kadang sambil bernyanyi-nyanyi kecil dengan lagu kegemaranku MATAHARIKU dari agnes mo yang sedikit mengingatkanku akan tara si cowok inceranku hehe. karena terlalu asyik, aku tidak memperhatikan jalanan yang penuh dengan kerikil tersebut. hingga braakk!!!!

“aduhh! apes banget sih hari ini.” gumamku dalam hati

tiba-tiba ada sentuhan tangan lembut di pundakku.

“erlin? kok bisa jatuh kayak gini?” tegur seorang cowok yang tidak asing lagi bagiku. ya dia Tara, cowok yang selama ini ku impikan. tak kusangka dia muncul menolongku bagaikan pahlawan di siang bolong.

“kok bengong? ayo aku tolongin!” ucap tara (sambil menjulurkan tangannya berniat membantu aku berdiri)

aku pun tak bisa berkata apa-apa di depan tara. segera ku raih tangannya yang lembut bagaikan seorang putri yang hendak pergi ke pesta bersama seorang pangeran tampan. haduh khayal lagi. lagi enak-enakan sama si tara, suasana itu dirusak oleh bunyi ponselku.

2 pesan belum dibaca

“lin kamu dimana?” bunyi sms dari dinda

” lin, cepet dong! kamu yang bikin janji, jangan sampai kamu mengingkari!” bunyi pesan singkat kedua yang ternyata dari irin

tanpa pikir panjang, aku langsung meraih sepedaku yang tergeletak dan mengayuh sekuat tenaga,jiwa,dan raga ku. biarpun keringat di dahiku mulai bercucuran. akhirnya tepat pukul 02.30, aku pun sampai di halaman rumah dinda yang cukup luas.

“sepertinya dinda ini anak orang kaya deh” gumamku dalam hati.

“lin! ayo cepat masuk sini!” teriak irin yang sedikit membuatku tersentak

saat aku ingin masuk ke dalam rumah dinda, nampaknya ada teman cowok yang juga ikut berkelompok hari ini. tapi bukannya kelompok kita ga ada yang cowok ya?

“rin,itu siapa? bukannya kelompok kita ga ada cowoknya ya?” tanyaku penasaran

“oh itu, itu sepupunya dinda. dia  juga sekolah di sekolah kita lho tapi sayang dia ga satu kelas sama kita. kalo kamu belum kenal,sini aku kenalin.” ajak irin (sambil menarik tanganku dengan kencang)

“aduh, sakit irin!” keluhku (sambil melepaskan genggaman irin)

“nah,ini ni namanya tara sepupunya dinda.” kata irin

mataku tak berkedip. sambil menelan ludahku yang hampir habis. begitu kagetnya aku tau bahwa tara adalah sepupu dari sahabatku sendiri

“udah kenal kok” ujar tara mengarah kepadaku

aku hanya bisa tersenyum. sepatah kata pun tak bisa aku keluarkan. bagaimana bisa aku belajar bersama orang yang selama ini aku kagumi. konsentrasiku pasti buyar olehnya.

“tapi tetap harus jaga wibawa nih di depan tara” gengsiku mulai berbicara dalam hati

“din, pak camat dimana? kok gak keliatan sih dari tadi?” tanya irin tiba-tiba

“ohh, bapak masih ada di kantor bentar lagi juga pulang kok.” jawab dinda

“ohh ternyata dinda anaknya pak kades. pantesan rumahnya gede banget. halamannya luas pula. mungkin kalo dibuat rumah, bisa 10 kali lipat dari rumahku.” pikirku

belajar kelompok sore itu berjalan dengan lancar. walaupun sedikit gak konsen gara gara si tara. tapi ga apalah toh bisa belajar lagi kan nanti malem.

“lin, kamu suka ya sama tara?” tanya si irin menebak

“apa sih? gak kok!” bantahku

“alah ngaku aja deh, udah keliatan lagi dari tatapan wajahmu,sorotan matamu. nih ya aku kasih tau tara itu bukan cowok gampangan lho. dia itu kalo sama cewek, cueknya setengah mati.” irin mulai bercerita tentang cowok itu

“emang iya rin?” tanyaku penasaran

“ciyee penasaran kan? iya tara itu cuek bebek. jangankan cewek lain,dinda aja nih yang sepupunya, ga bakal mau dia antar jemput ke sekolah. maka dari itu kaget kan kamu kalo tara itu sepupunya dinda?” jelas irin

“iya juga sih.”

mendengar cerita irin, harapanku untuk mendapatkan tara berubah menjadi impian yang tak akan bisa terwujud. huh, mungkin ini udah diatur sama yang diatas.

sore itu berlalu begitu cepat. matahari mulai hilang dan hanya meninggalkan seberkas cahaya merah yang sebentar lagi juga akan pudar hilang akan datangnya kegelapan. burung-burung kecil diatas sana menari-nari seakan sudah mendapatkan kepuasan dari petualangan langitnya hari ini. walau rasa pegal dan capek rasanya terus menggerogoti tubuh ini, aku tetap harus membantu ibuku membuat kue untuk berjualan di pasar esok hari.

“gimana lin belajar kelompoknya?” tanya ibuku (dengan wajah yang penuh dengan peluh)

“ya lancar bu. ternyata bu dinda itu anaknya pak camat lho. rumahnya gede banget halamannya pun luas .” ucapku kagum

“ooo..begitu.” jawab ibuku (sambil memanggutkan kepalanya seakan mengerti dengan penjelasanku)

“hebat kan bu dinda?”

“yang hebat orang tuanya lin, bukan dindanya. nanti kalo kamu sudah besar, ibu harap kamu bisa sukses juga seperti orang tuanya dinda. nanti kalo kamu sudah sukses, ibu pengen banget ke mekkah sana,naik haji.” ujar ibu menjelaskan harapannya padaku

“aminn bu semoga saja erlin kalo sudah besar nanti bisa jadi dokter yang proffesional” aku ikut memanjatkan doa dan harapan

“assalamualaikum.. !”

“waalaikumsalam” jawabku dengan ibu hampir bersamaan

sepertinya bapak sudah pulang dari sawah tuh. pasti bapak bawa makanan deh. aku pun langsung menyambut bapak dengan gembira. kujabat dan kucium tangannya yang sedikit kasar mungkin karena sering mencangkul di sawah. tapi kulihat kali ini bapak tidak membawa bungkusan, memang benar ternyata hari ini dompet bapak tipis katanya,oleh karena itu ia tidak bisa membelikan makanan untukku.

“lin, kamu ndak tidur? besok kalau kamu kesiangan gimana? ndak bisa sholat tahajud lho” suruh ibuku

“baik bu”

aku pun langsung membaringkan tubuhku di kasurku yang kecil itu. mungkin hanya seluas 4*5 meter saja. badanku memang capek. rasanya ingin sekali memejamkan mata ini. tetapi pikiranku terus memikirkan tara.

“ah, ngapain sih mikirin tara. belum tentu tara mikirin aku. udah ah tidur aja” pikirku dan mulai memejamkan mata

********************************

tepat pukul 03.00 malam, aku terbangun seperti biasanya. kuambil air wudhu di dalam sebuah gentong yang bagian bawahnya sudah dilubangi dan diberi selang untuk jalan keluarnya air. air itu membasahi wajahku yang sebenarnya masih mengantuk. selepas mengambil air wudhu, langsung segera aku melaksanakan sholat tahajud. di setiap doa selalu ku panjatkan doa agar kelak aku bisa menjadi dokter dan menaikkan bapak ibuku pergi haji. doa itu selalu kulontarkan di sepanjang sholatku. selesai sholat, langsung kuambil buku pelajaranku dan kubaca lagi materi yang sudah terganggu oleh tara sore tadi. hal ini rutin kulakukan. hingga saat ujian tiba, aku lebih meningkatkan belajarku. aku berdoa pada yang maha kuasa supaya aku diberi kepandaian agar menjadi lulusan terbaik tahun itu. dan alhasil, doaku terwujud. aku yakin memang allah tidak tidur. ia selalu mendengarkan doa hambanya yang bersungguh-sungguh. saat ini masa laluku bersama tara sudah terlewati. aku harus mengambil langkah baru lagi untuk menatap masa depanku. sekarang aku sudah menjadi seorang remaja. wajarlah jika aku bisa ikut merasakan apa itu cinta layaknya teman-temanku yang lainnya. kali ini aku dekat dengan seorang cowok yang cool,ganteng,dan pinter pula keliatannya. namanya aris. tapi anehnya sampai sekarang pun aku belum pernah mendengar dia mengucapkan sepatah aja kata cinta buatku. suatu hari saat aku lagi belajar bersama irin, kebetulan irin satu SMA denganku. ia bertanya mengenai hubunganku dengan aris.

“lin, gimana kamu sama aris?”

“ya gitu deh rin, biasa aja belum ada perubahan. tapi dia itu ya rin kalo sms aku bawaannya gombal mulu.” curhatku pada irin

“kalo menurutku ya lin, kayaknya kamu di PHP deh sama si aris. yang aku tau aris itu udah keren pinter pula. jadi kayaknya susah deh dapetin dia.” irin mulai menasihatiku

“jadi gimana dong rin?”

“ya hapus nomernya. fokus ke pelajaran. sampai kamu bisa meraih cita-citamu itu” jelas irin

“okelah kucoba untuk kesekian kalinya,ganbatte!” ucapku semangat (sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya keatas)

“ganbatte!” balas irin

hari bergulir mengikuti arah jarum jam. aku berhasil menuntaskan belajarku di SMA. dan lagi-lagi aku dapat predikat lulusan terbaik tahun ini. hingga sekarang aku bisa kuliah di universitas  yang aku impi-impikan selama ini. sayang aku harus meninggalkan keluargaku yang ada di desa. sekarang aku harus hidup sendirian di tengah-tengah keramaian kota metropolitan. yeah,sekarang aku sekolah di salah satu universitas kedokteran di jakarta. ternyata hidup di desa lebih menyenangkan daripada hidup diantara gedung gedung besar dimana telingaku kebisingan setiap pagi akibat deru kendaraan bermotor yang tiada hentinya meraung-raung dengan keras. setiap kali pulang kuliah,aku selalu mampir ke cafe andalanku. ya bisa dibilang tempat nongkrongku sama temen-temenku. salah satunya angel. angel mirip sekali dengan irin. dia selalu menasihatiku saat aku dilanda masalah. cuman bedanya angel tidak seagama denganku.

suatu hari saat angel tidak masuk kuliah,aku pergi sendiri ke cafe itu.

“mang, teh satu ya?” aku mulai pesan minuman kepada pemilik cafe ini yang akrab kupanggil mamang.

sambil menunggu pesananku datang, aku selalu belajar tentang materi yang disampaikan oleh dosen tadi siang.

“mang,kopi satu ya?” teriak salah seorang lelaki yang suaranya tak asing bagiku. segera mataku mulai mencari-cari sumber dari suara itu.

“haa? vino? apa benar itu vino?” ucapku kaget tak percaya sahabat karibku ternyata ada disini. tak pikir panjang langsung kudekati dia.

“vino?” sapaku (sambil menepuk pundaknya)

“siapa ya?” tanyanya belum mengenaliku

“aku sherlina. temen kecilmu dulu.” aku mencoba menjelaskan

“erlin?”

“iya aku erlin. dulu kita pernah main ayunan bareng di belakang rumahmu.” jelasku mengenai masa lalu kita.

“astaghfirullah… iya aku ingat. erlin.. ya ampun aku pangling sama kamu. tambah cantik aja” ejeknya

“bisa aja.”

berawal dari pertemuan dengan sahabat lamaku tersebut akhirnya kita menjalin persahabatan layaknya dulu lagi. dan tak kusangka ternyata dia satu universitas denganku. hari-hariku selalu ditemani oleh vino. hingga pada akhirnya aku harus menjalani tes di amerika untuk bisa menjadi dokter. lagi-lagi berpisah dengan dia. tapi demi meraih cita-citaku, jangankan ke amerika, ke ujung duniapun akan ku lakukan  apapun itu resikonya.

2 tahun berlalu

sekarang kehidupanku berubah 180 derajad. dulunya aku yang hanya bisa bermimpi ingin menjadi dokter,sekarang malah aku menjalaninya di kehidupan nyata sebagai seorang dokter proffesional. dan beruntungnya yang menjadi asisten aku adalah sahabatku sendiri yaitu vino. sudah lama kuperhatikan. aku pikir vino mulai menyukaiku. tapi entah mengapa selama ini aku menghiraukannya. aku memang tidak suka pada vino untuk sekarang. dulu memang pernah aku menyukainya. tapi sekarang dengan dulu kan berbeda?

suatu hari saat aku sedang ada di rumah sakit vino menelponku.

“lin, maaf aku tidak bisa menghandle pekerjaanmu satu hari ini, sekarang aku ditugaskan ke surabaya untuk melakukan observasi” kata vino pada suatu hari

“iya vin ga apa-apa. pasien hari ini baik-baik semua kan?” tanyaku

“iya lin. tapi ada satu pasien yang belum aku urus dari kemarin. kamarnya nomor 09 ruang VIP. tolong kamu check keadaanya hari ini deh.” pesan vino

“ohh gitu. baiklah.” jawabku singkat

akhirnya aku langsung bergegas menuju kamar yang dipesankan oleh vino. saat ku buka pintu kamarnya, sepertinya aku kenal dengan orang itu.

“dinda?” sapaku dengan spontan

“loh, dokter kok tau nama saya?” tanyanya keheranan

“aku sherlina din. dulu kita pernah belajar di rumah kamu bersama-sama masak udah lupa sih?” tanyaku

“ohhh.. erlin? waww! kamu sekarang jadi dokter?” tanya dinda tidak percaya (sambil memegang erat kedua tanganku)

“iya yang sekarang kamu lihat ini bagaimana?”

“hebat kamu lin.” kagumnya

“eh ngomong-ngomong siapa yang sakit?” tanyaku

“saudara sepupuku lin. si tara”

aku pun kaget mendengar namanya. wajarlah dia orang yang pernah kusuka. tapi entah mengapa perasaanku biasa-biasa aja ya? tidak segugup saat SMP dulu.

“oh,, sini biar kuperiksa. sakit apa dia?”

“kata dokter yang kemarin periksa tara sih,tara sakit maag.” jawab dinda

saat ku periksa jantungnya, aku mendengar jantungnya berdetak begitu kencang. entah apa yang dia rasakan. saat kutatap matanya,sepertinya dia menyukaiku. andai aja tara suka aku dari dulu. pasti aku akan menerimanya. keadaannya sekarang, aku sudah tidak menyukainya lagi.

“keadaan sepupumu ini baik-baik aja kok. yang menangani dia kemarin dokter siapa?”

“kalo ga salah sih namanya itu dokter a..ri..s. ya dokter aris.” jelas dinda terbata-bata.

jangan-jangan dia adalah orang yang kusuka saat aku duduk di bangku SMA lagi. huh moga-moga aja bukan deh. selepas aku memeriksa kondisi tara, aku kembali ke ruanganku. tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

“ya silahkan masuk.” sahutku dari dalam

“selamat siang dokter sherlina” suara itu mengagetkanku

“selamat siang. aris?” tanyaku kaget

“yah aku aris. tidak kusangka kita bisa bertemu lagi ya?” katanya

“iya, semoga kita bisa menjadi partner kerja yang solid.” balasku

“yah semoga begitu”

begitulah pertemua kita. perasaanku kini sudah hilang untuk aris. aku sekarang malah ingin melanjutkan sekolahku di amerika dan ingin menemukan pasangan disana. dan tak kulupa aku juga akan memberangkatkan haji bapak dan ibuku serta memboyongnya ke tempat tinggalku yang baru..

 

ENDING

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s