AMIN & AMINA ^^cerpenku^^

hjhyty

Mataku gelap. Yang bisa ku lihat hanyalah cahaya matahari yang merambat lurus melewati sebuah lubang kecil dari atap genteng sebuah gubug. Tanganku diikat dan digantung menggunakan segerombol besi yang sangat kuat. Kakiku tidak bisa digerakkan. Diapit dua buah kayu yang digembok di salah satu ujungnya. Orang-orang sering menyebutnya dipasung. Entah kenapa semua orang mengatakan aku ini

tidak waras atau biasa disebut gila. Memang kehidupanku dulu sangat tragis. Saat aku duduk di kelas 3 SD, Ayahku pergi ke luar kota dan mencari pekerjaan disana. Aku tidak tahu, kota mana yang disinggahi ayahku untuk mencari pekerjaan. Saat ku hubungi nomor hp nya, selalu tidak aktif. Sedangkan ibuku sudah meninggal saat melahirkanku. aku hidup sebatang kara. Aku dititipkan kepada saudara jauh ayahku. Saat aku duduk di bangku SMP, aku selalu diejek oleh teman-temanku. Kata nya aku ini adalah anak pembawa sial karena sudah menyebabkan ibuku meninggal dan menyusahkan ayahku. Sewaktu itu saat pulang sekolah aku menangis kepada pamanku.
“ paman, apa benar aku ini anak pembawa sial?” tanyaku (sambil meneteskan air mata)
“loh, ari kok bisa bicara begitu, kata siapa ari anak pembawa sial?” tanya paman ari.
“kata teman-teman ari,paman . apa benar ya ari ini anak pembawa sial?” tanya ari lagi.
“tidak ari, kamu bukan anak pembawa sial.” Jawab paman ari.
“biarlah..memang dia itu anak pembawa sial pak. Bisanya memang menyusahkan hidup kita.” Sahut bibi ari.
“huss..ibu ini ngomong apa sih. Ari ini anak baik-baik kok.” Bantah paman ari.
Memang bibiku sangat membenciku. Dia selalu memperbudakku. Seolah-olah ia melampiaskan kemarahannya padaku. Aku tidak tau apa penyebabnya. Hidupku seolah-olah bagaikan perahu yang kehilangan arah. Banyak orang yang membenciku. Yang bisa menyayangiku dan mengerti aku hanya pamanku. Saat itu aku menginjak kelas 10, banyak orang mencaci maki dan menghina ku. Semua cemooh an itu sangat memukul batinku. Hingga pada suatu hari saat kesabaranku mulai habis…
“lihat itu bu, anak pembawa sial, sok-sok an mau sekolah.” Celetuk salah seorang ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
“eh iya, bisanya Cuma menyusahkan pamannya, dulu ibu dan bapaknya yang dibikin susah,sekarang ganti pamannya..” sahut ibu-ibu lainnya
“TIDAKKKK…! AKU BUKAN ANAK PEMBAWA SIAL….!!!!!!!!!!!!!” teriakku (sambil mengobrak-abrik gerobak tukang sayur itu)
Saat itu aku sangat marah sekali, karena sudah banyak cemoohan yang aku terima. Sejak saat itulah, aku dikurung di dalam gubug dan kaki tanganku semuanya diborgol. Hal itu membuatku semakin ingin melampiaskan kemarahanku kepada semua orang.
Tiba-tiba kreeekkk….terdengar suara pintu sedang terbuka. Aku pun terbangun dari semua lamunanku.
“ari, ini paman bawakan sarapan untukmu.” Ucap paman ari
Setiap pagi, pamanku selalu membawakan aku sepiring nasi dan segelas air putih. Ia menyuapkan 2-5 sendok nasi ke dalam mulutku. Dalam hatiku, aku ingin sekali mengucapkan terima kasih padanya. Tapi entah mengapa mulutku ini selalu saja ingin meluapkan sebuah kemarahan yang teramat sangat. Jadi, saat aku bertemu pamanku, aku selalu diam. Detik demi detik,hari demi hari, aku selalu mendengar ejekan setiap orang saat lewat di sekitar gubug ini. sampai-sampai anak kecil yang sedang bersendau gurau tentang kejelekan pun, selalu menyebut namaku.
“eh, bajumu kumal banget, kayak orang gila di dalam gubug itu tuh….!” ejek seorang anak kecil.
“iya…hahahahaha…maksudmu seperti ari si anak pembawa sial itu?” sahut anak lainnya
“iya lah…siapa lagi orang yang gila karena kesialan yang ada di dirinya sendiri..sudah pasti ari jawabannya…hahahahahaha” kata anak itu.
Begitulah kiranya anak-anak kecil saat melewati gubug ini. ejekan dan cemooh an yang ku terima setiap saat itu, membuatku semakin marah dan emosi ku menjadi tidak bisa dikendalikan.
*********************
Sang surya telah bersinar terang. Sawah-sawah terbentang luas menjadikan kampung ini semakin indah. Daun-daun yang sudah layu tampak berguguran menandakan musim panen akan tiba.
“bu, bapak mau pergi ke sawah dulu ya?, nanti ari kamu yang kasih makan.” teriak pak ujang, paman ari (sambil mengangkat sebuah pacul ke pundaknya).
“ha? Ibu yang kasih makan pak? Gak ah ibu jijik sama ari, sudah jelek,item,kumuh, hiiii..gak ah pak..” sahut bu utari, bibi ari (sambil mengangkat bahunya dan menaikkan bibirnya tanda sebuah kejijikan)
“lho, ibu ini bagaimana toh, sebentar lagi kan mau panen, ibu mau, bulan ini kita tidak makan?” tanya pak ujang.
“ya deh pak, tapi nanti kalau ari mengamuk gimana pak?” tanya bu utari
“dia tidak akan mengamuk kalau tidak ada yang memancing kemarahannya. Sudah ya bu, bapak berangkat.” Pamit pak ujang
“iya pak, hati-hati, kalau pulang bawa duit yang banyak” teriak bu utari
Setelah pak ujang meninggalkan rumah, bu utari pun tidak menjalankan amanat yang disampaikan oleh suaminya. Dia tidak memberi makan ari.
“ihhh..ngapain juga repot-repot ngasih makan orang gila. Mbok ya makanan ini buat aku aja, itu kan lebih baik.” Pikir bu utari (sambil membawa sepiring nasi dan lauk pauk)
Tapi bu utari berpikir untuk kedua kalinya. Bagaimana jika suaminya nanti menanyai ari perihal dia sudah makan atau belum. Nanti kalau ari menjawab bahwa dia belum makan, bisa habis bu utari oleh suaminya.
“eh, tapi nanti bapak kalau bisa tau bahwa ari belum aku kasih makan, bisa habis aku oleh bapak. Bisa-bisa aku tidak dikasih uang belanja bulan ini.” pikir bu utari untuk yang kedua kalinya.
Akhirnya dengan terpaksa, bu utari membawakan sepiring nasi untuk keponakannya tersebut.
“ari, nih makan dulu. Ngrepotin aja. Makanya jangan membawa sial terus dong. Bibi udah capek tau.” (dengan nada bicara sedikit culas)
Mendengar kata yang dilontarkan oleh bibinya, ari pun tidak segan-segan menumpahkan sepiring nasi yang dibawa oleh bibinya. Hingga
PYARRR….
“eh ari, bibi itu udah capek-capek bikinin makanan untuk kamu, malah seenaknya aja kamu mecahin piring dan menumpahkan nasi ini. udah untung kamu aku kasih makan. Dasar anak gak tau diuntung.” Ucap bu utari (dengan raut wajah yang menampakkan kemarahan teramat sangat)
Bu utari pun meninggalkan ari yang masih tercengang melihat kemarahan bibinya itu. tidak lama kemudian, ari pun meneteskan air mata sambil mencabik-cabik bajunya sendiri menampakkan kesedihan yang mendalam.
“ayah,ibu…aku kangen sama kalian. Kalian dimana?, ari disini merindukan kalian berdua. Ari takut sendirian, disini gelap.” Ucap ari (dengan nada terputus-putus)
Keadaan ari saat ini sangat menyedihkan. Remaja seumur-an ari ini seharusnya belajar dan mengejar cita-cita layaknya remaja pada umumnya. tapi takdir berbicara lain.
***********************
“assalamualaikum bu…bu…ini ada pak kades datang ke rumah kita…cepet bukain pintunya…!!!!” teriak pak ujang dari luar rumah
“iya pak,sebentar…” sahut bu utari dari dalam (sambil menguncir rambutnya)
“eh, pak kades..silahkan masuk pak…monggo…” ucap bu utari.
“ iya bu makasih..” ujar pak kades
“silahkan duduk pak.. bu, tolong bikinkan minum untuk tamu kehormatan kita ini.” ucap pak ujang kepada istrinya
“aduh pak ujang ndak usah repot-repot” kata pak kades
“ ndak apa-apa pak kades, tidak merepotkan. Oh iya ini tidak ada angin tidak ada hujan kok mendadak pak kades mau mampir ke rumah kita yang jelek ini. ada apa pak?” tanya pak ujang
“oh iya pak, begini, sebenarnya maksud kedatangan saya kesini itu mau membicarakan tentang keponakan bapak.” Jawab pak kades
“ maksud pak kades ari?” sahut bu utari dari dalam (sambil membawakan secangkir minuman)
“iya bu, saya prihatin dengan kondisi ari saat ini, saya ingin mengirim ari ke rehabilitasi islami di luar kota, kebetulan disana ada teman saya, semoga saja bisa menyembuhkan ari.” Jelas pak kades.
“haduh pak kades, biarain lah ari lebih baik seperti itu saja, dia itu anak pembawa sial, nanti pak kades malah kena sial mulu.” Celetuk bu utari.
“huss, ibu ini ngomong apa toh, ibu itu harusnya bersyukur masih ada orang baik seperti pak kades yang mau membantu ari agar dia bisa sembuh.” Bantah pak ujang.
“iya bu,pak, apa boleh saya membawa ari ke luar kota?” tanya pak kades.
“oh tentu saja boleh pak. Saya itu sangat kasihan dengan ari, remaja seperti ari kan seharusnya dapat bersekolah dan bisa menikmati masa-masa indah sebagai remaja. Dengan senang hati, pak kades boleh membawa ari ke luar kota.” Jelas pak ujang.
“ya sudah pak ujang, saya pamit dulu saya masih ada urusan, besok saya kembali kesini untuk menjemput ari. “ pamit pak kades
“iya pak, sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih.” Ucap pak ujang
Pak ujang pun meninggalkan bu utari yang masih sebal dengan keputusannya dan mengantarkan pak kades untuk pulang.
Keesokan harinya………
“pak ujang…asalamualaikum..!!!” teriak pak kades
Dengan tergopoh-gopoh pak ujang membuka pintu rumahnya.
“eh pak kades..pasti mau menjemput ari yaaa?” tanya pak ujang (sambil memakai kopyah)
“iya pak, mana ari nya?” tanya pak kades.
Pak ujang pun membuka kan gubug tempat ari dipasung.
“pak ujang, apa ari nanti tidak mengamuk?” tanya pak kades (dengan raut wajah sedikit ketakutan)
“tidak pak kades, ari itu tidak akan mengamuk jika tidak ada yang memancing kemarahannya. Pak kades tenang saja.” Jelas pak ujang.
Mereka berdua pun membawa ari ke dalam mobil pak kades. Saat mobil ingin melaju…
“pak, kalau bicara dengan ari jangan keras-keras, tolong sedikit dipelankan. Karena ari suka dengan ketenangan. Ia tidak suka dengan keramaian.” Pesan pak ujang ( membisikkan ke telinga pak kades)
“iya pak, jangan khawatir. Saya pamit pak..assalamualaikum.” pamit pak kades.
Mobil pak kades pun segera melaju. Saat di dalam mobil…
“ari, kamu mau makan nak?” tanya pak kades (dengan nada yang sangat lirih)
Ari pun hanya menggelengkan kepalanya. Karena ia tidak terlalu akrab dengan orang luar seperti pak kades. Dalam pikirannya ia sangat bingung. Sebenarnya mau dibawa kemana lagi dirinya itu. beberapa jam kemudian saat sudah sampai di temapt yang dituju. Pak kades langsung menemui pemilik rehabilitasi islami tersebut.
“juna,ini anak yang ku ceritakan padamu kemarin.” Ucap pak kades (sambil memegangi kedua pundak ari)
Nama pemilik rehabilitasi islami tersebut adalah arjuna. Juna merupakan salah seorang pemerhati psikologi. Ia pernah dinobatkan sebagai lulusan sarjana kumlot di jerman dalam bidang psikologi.
“hei jun, kok malah melamun?” bentak pak kades (sambil menaik-turunkan tangannya di depan wajah arjuna)
“eh iya…maaf..maaf..oh jadi ini anak yang kamu maksud…baiklah silahkan masuk..” ujar pak arjuna
Pak kades pun pamit kepada ari. ia tidak bisa lama-lama menemaninya di tempat itu.
“ari baik-baik ya disini, bapak mau pulang ke kampung.”pamit pak kades (membisikkan ke telinga ari dengan nada lirih)
Ari pun hanya menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu pak arjuna sangat heran. Sebenarnya pemuda yang ada didepannya itu tidak gila. Hanya saja batinnya terpukul dan membuat mentalnya tidak sekuat remaja lainnya. Dan dilihatnya pula,sebenarnya ari itu anak yang cukup pandai. Dalam keadaan seperti itu saja,ia masih bisa merespon omongan orang lain.
“ayo nak kita ke dalam. Paman akan tunjukkan tempat tinggalmu yang baru” ajak pak arjuna.
Akhirnya Ari ditempatkan di sebuah kamar. Dimana kamar tersebut sangat sederhana tetapi dinding kamar tersebut dihiasi oleh beberapa lukisan ayat al-qur’an yang tampak indah dan menarik. Walaupun kasurnya sempit, tetapi tetap bersih dan nyaman. Karena kelelahan, ari pun tidur di kasur yang sangat kecil itu.
1 jam kemudian……… ari terbangun dari tidurnya karena mendengar suara lantunan ayat al-qur’an yang sangat merdu. Ari pun mencari sumber suara tersebut. disaat ia membuka pintu kamarnya dilihatnya seorang perempuan berkerudung putih menandakan sesosok wanita yang taat akan agamanya membaca ayat-ayat al-qur’an dengan suara yang sangat merdu. Ari pun mendekati sesosok wanita misterius tersebut. ia duduk tepat didepan wanita itu. sebenarnya wanita itu sudah menyadari akan keberadaan ari tetapi ia terus membaca ayat-qur’an tersebut hingga selesai. Saat sudah selesai………………..
“kenapa berhenti?” tanya ari (sambil menatap kedua mata wanita itu)
“perkenalkan nama ku amina… “ ucap wanita itu (sambil menjulurkan tangannya)
“namaku…”
Saat ari ingin memperkenalkan dirinya. Ternyata wanita itu sudah tau nama ari.
“namamu ari kan?” tanya amina
Ari pun hanya mengangguk malu kepada wanita itu. saat ia berjabat tangan dengan amina,ia juga merasakan hal yang aneh. Jantungnya berdebar kencang. Denyut nadinya seakan berhenti sekejap.
“ari, mau belajar membaca ini?” tanya amina (sambil menunjukkan sebuah al-qur’an berlapiskan emas)
“iya, itu apa?” tanya ari (dengan penuh kepolosan)
“ini al-qur’an. Kalau ari mau belajar, besok ari bangun pagi ya? Aku akan ajari ari disini.” Ucap amina (dengan suara yang sangat lembut)
Akhirnya ari menyetujui saran dari amina. Ia pun masuk kamar. Beberapa menit kemudian pak arjuna datang ke kamar ari dan ingin membicarakan sesuatu.
“tokk…tookk..tokk..” ketukan pintu dari pak arjuna
“iya amina…” ucap ari spontan
“amina? Ini paman juna bukan amina.” Ujar pak arjuna
Ari hanya tersipu malu. Dikiranya yang datang mengetuk pintu adalah amina. Ternyata paman juna.
“ari, paman mau bicara sama ari. Boleh?” tanya pak arjuna
Ari hanya menjawab dengan anggukan.
“begini ari, paman ingin mengganti namamu. Karena nama yang kamu pakai sekarang adalah nama masa lalu mu yang suram. Boleh ya? Ini demi kebaikanmu.” Kata paman juna
Ari tetap saja menganggukkan kepalanya. Ari menyetujui apapun yang orang katakan. Karena dalam jiwanya ia tidak mau dianggap anak pembawa sial.
“baiklah..sekarang namamu adalah amin. Bukan ari. Mengerti?” tanya paman juna.
Ari mengangguk lagi.
“ayo ulangi kata paman. Namaku amin bukan ari.” Ejah paman juna
“na..ma..ku amin bukan ari.” Jawab ari (dengan nada yang sangat pelan)
“baiklah amin, paman tinggal ya? Ingat, namamu adalah amin. Jadi kalau ditanya orang lain tentang namamu,jawab kalau namamu adalah amin.” Kata paman juna sekali lagi.
Pak arjuna pun pergi meninggalkan ari yang namanya sudah diganti menjadi amin. Ini merupakan trik dari pak arjuna untuk menyembuhkan penyakit amin. Karena penyakit amin ini bersumber dari masa lalu. Jadi masa lalu tersebut harus dihilangkan dari pikiran amin.
***************************
Langit masih gelap. Udara di luar masih sangat dingin mencekam. Tetapi adzan subuh sudah berkumandang. Amina seorang gadis yang tepatnya sebagai salah seorang karyawan pak juna sudah bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat shubuh. Amina memang ditugaskan pak juna khusus untuk menangani masalah amin. Setelah ia melaksanakan sholat shubuh, ia langsung bergegas menuju teras kamar amin. Disana ia langsung membuka al-qur’an dan membacanya dengan suara yang bisa membuat hati setiap orang menjadi tenang. Beberapa menit saat ia tengah membaca al-qur’an,tiba-tiba amin datang.
“ari,kamu sudah bangun?” tanya amina
“na..ma..ku..amin bukan ari.” Jawab amin sesuai perintah paman juna
“iya..namamu amin. Sekarang amin mau belajar membaca al-qur’an ya?” tanya amina
“(hanya tersenyum)” amin
“kalau amin mau belajar, amin harus wudhu dulu. Dan ganti pakaian amin dengan pakaian yang sudah disiapkan paman juna di dalam kamar amin.” Ajar amina
Setiap hari amina menyuruh amin untuk berwudhu dan mengganti pakaiannya supaya lebih rapi. Hari ke hari amina mengajari amin tentang tata cara mengaji dan sholat. Waktu pun cepat berlalu. Amin yang sekarang bukanlah ari yang dahulu hanya bisa terdiam di dalam gubug. Kemajuan amin sangat pesat. Ia bisa mengaji dengan suara yang sangat merdu seperti yang sudah diajarkan oleh amina. Bahkan ia bisa menghafal 1 surat ayat al-qur-an dalam waktu 3 hari saja. Itu pun kalau surat madaniyah. Karena ketekunan dalam belajarnya, amin mampu menghafal semua surat dalam al-qur’an. Pak juna sangat bangga melihat itu semua. Bahkan ia berniat untuk mengirim amin ke mekah agar ia dapat menerima beasiswa untuk sekolah disana. Tetapi ia tidak mempunyai biaya yang cukup untuk memberangkatkan amin kesana. Akhirnya pak juna menyekolahkan amin di salah satu universitas ikatan dinas. Jadi kalau ia sudah lulus,ia bisa langsung dapat pekerjaan. Ternyata saat di test, amin lulus. Dan ia dapat sekolah di universitas tersebut.
“paman,amin berangkat dulu ya?” pamit amin (sambil membawa tas ransel berwarna hitam)
“iya nak..hati-hati…” ucap paman juna.
“assalamualaikum…” salam amin
“waalaikumsalam..” jawab paman juna
Amin pun pergi kuliah dan meninggalkan pak juna yang masih tercengang tidak menyangka bahwa amin yang dulu sudah berubah 180 derajat.
“kamu memang anak yang baik min. Semoga perjuanganmu ini tidak sia-sia.” Doa paman juna dalam hati.
Amin merupakan mahasiswa yang cukup berprestasi. Hanya 5 tahun saja, ia bisa lulus dan langsung dikirim ke sebuah daerah untuk menjadi camat disana.
“paman, amin pamit. Amin mau ditugaskan ke sebuah daerah di luar kota.” Pamit amin
“hati-hati ya..? jangan pernah tinggalkan sholat dan ngaji mu.” Pesan paman juna
“iya paman. Assalamualaikum..” ucap amin
“waalaikumsalam..” jawab paman juna (dengan raut wajah terharu)
Amin pun melangkahkan kakinya menuju gerbang. Saat ia berada tepat di depan gerbang tiba-tiba…
“AMIINN TUNGGUU..” teriak amina
Amin pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ternyata yang dilihatnya adalah wanita yang selama ini ia sayangi
“amin, kamu akan kembali kan?” tanya amina (dengan mata berkaca-kaca)
“iya amina, aku akan kembali kesini untuk menjemputmu nanti.” Jawab amin (sambil memegang kedua tangan amina)
Amin pun segera menuju mobil yang siap mengantar ia ke daerah yang akan ditinggali amin untuk bekerja sebagai camat. 3 jam perjalanan amin untuk sampai ke daerah tersebut. saat ia sudah sampai, ia sangat kaget ternyata daerah yang akan dipimpinnya itu merupakan tempat tinggalnya dulu. Ia bertemu pak kades yang dulu sudah menolongnya untuk sembuh.
“silahkan pak camat..silahkan masuk.” Ucap pak kades (mempersilahkan amin ke ruang kerjanya)
“pak kades? Ini saya ari yang dulu pernah bapak tolong…sekarang saya sudah sembuh. Dan paman juna mengganti nama saya menjadi amin.” Jelas amin
“ari? Subhanallah…ini ari..ari yang..” (tidak bisa mengungkapkan kata-katanya)
“iya..saya ari yang dulu pernah bapak bawa ke rehabilitasi.” Jelas ari sekali lagi.
“tapi kok bisa?” tanya pak kades (masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini)
“ceritanya panjang pak. Nanti saja saya ceritakan. Sekarang tolong antar saya ke rumah paman saya. Karena Dulu saya sudah berjanji kalau saya sukses,saya harus membayar semua balas budi paman saya.” Pinta amin
Akhirnya pak kades pun mengantarkan amin yang sekarang menjabat sebagai pak camat itu ke rumah pamannya. Saat itu di rumah paman amin terjadi perdebatan antara pamannya dengan rentenir. Karena pamannya mempunyai hutang kepada rentenir tersebut.
“memangnya berapa hutang bapak ini?” (sambil melerai pertengkaran pamannya dengan rentenir itu)
“10 juta!” jawab rentenir itu (dengan suara bentakan)
“tenang. Nanti saya akan transfer di nomor rekening anda. Ini kartu nama saya.” Ucap amin
Akhirnya rentenir tersebut pergi meninggalkan rumah paman amin. Ia tidak jadi menyita semua barang-barang yang ada di rumah paman amin.
“terima kasih pak camat…terima kasih…saya tidak tau harus berbuat apa untuk membalas semua jasa-jasa pak camat” ujar paman amin (sambil menciumi tangan amin)
Paman amin tidak mengetahui bahwa yang sedang diciumnya tersebut adalah keponakannya.
“paman, yang seharusnya berterima kasih adalah aku. Ini ari,keponakan paman.” (meyakinkan pamannya)
“apa? Ari? Ari keponakanku?” tanya paman amin (dengan raut wajah penuh ketidak-percayaan)
“iya..sekarang namaku bukan ari paman, tetapi amin. Paman juna lah yang sudah mengganti namaku. Dan berkat nama tersebut aku bisa sembuh dan menjadi yang sekarang ini.” jelas amin.
“subhanallah…terima kasih ya gusti….terima kasih “ (sambil memeluk erat keponakannya itu)
Akhirnya semua orang yang dulu mengejek dan mengucilkan amin sekarang berubah menjadi menghormati dia. Termasuk bibinya. Amin pun sangat bersyukur kepada allah SWT karena kehidupannya yang sekarang sudah menjadi lebih baik dari yang dulu. Dan ia menjalani sisa hidupnya bersama wanita yang sudah merawatnya hingga sembuh yaitu amina.
– TAMAT –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s